Nama pengusaha muda Ryu Kintaro terseret dugaan penggunaan hasil tes kerja seorang pelamar untuk publikasi perusahaannya. Pihak Ryu menawarkan pertemuan dan kompensasi Rp10 juta, tetapi tawaran itu ditolak sang pelamar.
Kasus ini bermula dari pengakuan pemilik akun Threads @manusia_1080p. Ia mengaku melamar posisi videografer dan editor di perusahaan Ryu Kintaro, mengikuti proses rekrutmen yang ia sebut berlangsung pada 3 Juli 2026.
Menurut ceritanya, ia diminta menjalani tes editing secara langsung di kantor menggunakan PC perusahaan. Instruksi dari editor internal, yang ia lingkari dalam unggahan, adalah menyunting dari menit ke-3 sampai menit ke-11 saja. Seluruh project file dan draf editan, katanya, mutlak tertinggal di PC perusahaan karena pekerjaan dilakukan di lokasi.
Dugaan Hasil Tes Diunggah Tanpa Kompensasi
Sang pelamar menuding hasil tes tersebut kemudian diunggah untuk kepentingan publikasi perusahaan, tanpa ada kejelasan status lamaran maupun kompensasi baginya. Persoalan itu disebut kembali menghangat setelah lowongan serupa dibuka lagi, hingga ia memilih menceritakan pengalamannya di media sosial.
Tak berhenti di situ, ia turut mengaku menerima pesan bernada intimidasi berupa ancaman pelacakan alamat rumah dengan menyalahgunakan data CV-nya, serta ancaman kekerasan fisik yang nyata. Rangkaian tudingan ini adalah klaim dari satu pihak dan belum dibuktikan lewat jalur resmi.
Jawaban Pihak Ryu dan Penolakan Sang Pelamar
Melalui akun Threads @ryu_kintaro, pihak Ryu Kintaro memberikan tanggapan. Sang pelamar diajak bertemu langsung di kantor untuk menyelesaikan persoalan secara baik-baik, disertai kesediaan memberikan kompensasi Rp10 juta sebagai bentuk penghargaan atas hasil tes yang digunakan.
Namun tawaran itu ditolak. Sang pelamar beralasan menerima intimidasi dari pihak sana, sehingga takut, trauma, dan tidak berani bertemu. Tawaran pertemuan dan uang Rp10 juta resmi ia tolak.
Ryu Kintaro sendiri disebut tergerak memperbaiki sistem rekrutmen di perusahaannya. Pertemuan lanjutan untuk menyelesaikan masalah ini secara langsung masih dikabarkan akan diupayakan, walau penolakan dari pihak pelamar membuat jalan damai belum menemukan titik terang.
Terlepas dari siapa yang benar, sengketa ini memberi pelajaran bagi kedua belah pihak. Perusahaan perlu transparan soal penggunaan karya peserta tes, sementara pelamar berhak menanyakan dan memastikan kesepakatan tertulis sebelum menyerahkan hasil karyanya dalam proses seleksi.