Belasan asosiasi pelaku industri pertelevisian Korea Selatan mendesak pemerintah segera bertindak: produksi drama anjlok sekitar 30 persen dalam dua tahun, anggaran sektor malah dipotong, dan para sineas menuntut dana investasi 1 triliun won khusus produksi lokal.
Tuntutan itu disampaikan dalam konferensi pers di Korea Press Center, Seoul, pada Rabu (4/11). Di balik kesuksesan drama Korea di panggung internasional, ekosistem tayangan domestik justru hancur.
Tuntutan kepada Pemerintah
Para sineas mendesak pemerintah Korea Selatan segera merumuskan strategi taktis guna memulihkan ritme produksi ke era sebelum invasi streaming asing. Mereka menuntut pembentukan dana investasi jangka menengah dan panjang senilai 1 triliun won yang dialokasikan khusus untuk produksi lokal.
Presiden Asosiasi Produksi Drama Korea Song Byeong-joon menegaskan betapa mendesaknya pemulihan volume produksi. "Dari kacamata ekosistem industri, jika ada 100 drama yang diproduksi, 99 drama lainnya jauh lebih penting daripada satu drama yang meledak di pasaran," pungkasnya. "Sebab dari 99 produksi itulah para kreator bisa tumbuh dan berkembang."
Desakan itu muncul di tengah rencana Kementerian Kebudayaan menyunat rancangan anggaran sektor ini dari 91,8 miliar won menjadi 87,3 miliar won pada 2027. Padahal pada 2025, ekspor Korean Wave sukses meraup US$18,98 miliar, yang mana US$1,25 miliar di antaranya berasal dari industri penyiaran dan video. Jepang justru agresif menyuntik dana lima kali lipat demi mengejar target ekspor konten US$1,6 miliar pada 2033.
Empat Biang Kerok Krisis
Pertama, struktur finansial yang mencekik. "Kenaikan biaya produksi dan menyusutnya kapasitas investasi telah menciptakan struktur di mana semakin banyak perusahaan berinvestasi pada tayangan, semakin banyak pula uang yang mereka hilangkan," ungkap Song Byeong-joon. "Hal itu yang kemudian berujung pada menurunnya jumlah produksi," keluhnya. Volume produksi drama merosot dari 141 judul pada 2022, sementara jatah tayang KBS, MBC, dan SBS jeblok dari 91 judul pada 2012 menjadi sisa 32 judul pada 2025, diperparah perolehan iklan yang terus lesu.