⌂ Beranda › Tren › Krisis Drama Korea: Produksi Anjlok 30 Persen, Industri Minta Dana 1 Triliun Won
Tren

Krisis Drama Korea: Produksi Anjlok 30 Persen, Industri Minta Dana 1 Triliun Won

Krisis Drama Korea: Produksi Anjlok 30 Persen, Industri Minta Dana 1 Triliun Won
My Mister • TMDB
A A Ukuran Teks16px

Drama Korea mendunia, tetapi pabrik di baliknya sedang sekarat. Produksi anjlok 30 persen dalam dua tahun, talenta muda kehilangan pekerjaan, dan anggaran pemerintah justru dipangkas.

Itulah gambaran yang disampaikan puluhan asosiasi industri dalam konferensi pers di Korea Press Center, Seoul, Rabu (4/11). Hadir di antaranya Korea Drama Production Association dan Korea TV & Radio Writers Association.

Korea JoongAng Daily melaporkan pada Kamis (5/11) bahwa para asosiasi menilai krisis ini mengancam ekonomi Korean Wave secara nasional, bukan sekadar keuangan satu sektor.

Struktur yang Merugikan Produsen

Presiden Korea Drama Production Association, Song Byeong-joon, mengatakan drama Korea memang mendongkrak ekspor makanan, kosmetik, fesyen, dan pariwisata. Namun industri produksi drama domestik justru menghadapi krisis yang parah.

"Namun, industri produksi drama domestik justru menghadapi krisis yang parah," kata Song.

Biaya produksi yang naik dan kapasitas investasi yang menyusut menciptakan struktur di mana perusahaan justru makin rugi ketika makin banyak berinvestasi pada sebuah tayangan.

"Kenaikan biaya produksi dan menyusutnya kapasitas investasi telah menciptakan struktur di mana semakin banyak perusahaan berinvestasi pada tayangan, semakin banyak pula uang yang mereka hilangkan. Hal ini berujung pada menurunnya jumlah produksi," ujar Song.

Dari 141 Judul Menjadi Jauh Lebih Sedikit

Volume produksi turun sekitar 30 persen dalam dua tahun dari rekor 141 judul pada 2022. Stasiun free-to-air KBS, MBC, dan SBS jatuh dari 91 judul pada 2012 menjadi hanya 32 judul tahun lalu, diperparah oleh iklan yang melemah.

Para pelaku industri menyalahkan platform streaming global seperti Netflix dan Disney+ yang mendistorsi standar biaya produksi dan membatasi kemampuan perusahaan lokal mempertahankan hak kekayaan intelektual mereka.

Tren AI dan maraknya drama format pendek turut memperburuk situasi dan berdampak langsung pada lapangan kerja.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru