Yang Paling Terpukul: Kru dan Talenta Muda
Presiden Korea Drama Producers Association, Kim Jong-chang, mengatakan talenta muda kehilangan kesempatan membangun portofolio.
"Tidak ada lapangan pekerjaan. Maraknya konten format pendek dan AI semakin memperburuk masalah ini. Kami sadar harus beradaptasi dengan perubahan tren, tapi kenyataan yang kami hadapi saat ini benar-benar sangat sulit," kata Kim.
Penulis My Mister, Park Hae-young, ketua komite hak cipta di Korea TV & Radio Writers Association, menggambarkan dampaknya pada kru lapisan bawah: para asisten penulis kini tidak punya pekerjaan.
"Biasanya, ketika saya merampungkan satu proyek, akan ada peluang baru yang bisa saya teruskan kepada para asisten penulis yang bekerja di bawah saya," kata Park.
"Tapi sekarang para asisten penulis itu tidak punya pekerjaan. Kita tidak boleh membiarkan industri ini menjadi terus bergantung dan dikendalikan oleh modal asing raksasa," lanjutnya.
Anggaran Dipangkas, Jepang Malah Tancap Gas
Respons pemerintah dinilai dingin: rancangan anggaran Kementerian Kebudayaan untuk sektor ini dipangkas dari 91,8 miliar won menjadi 87,3 miliar won untuk 2027.
Padahal pada 2025, ekspor Korean Wave mencapai US$18,98 miliar, termasuk US$1,25 miliar dari industri penyiaran dan video. Sebagai pembanding, Jepang agresif meminta anggaran lima kali lipat untuk memompa ekspor konten menjadi US$1,6 miliar pada 2033.
Industri menuntut kebijakan taktis pemerintah untuk memulihkan ritme produksi ke era sebelum platform streaming asing mendominasi, serta dana investasi jangka menengah dan panjang sebesar 1 triliun won khusus produksi lokal.
Song menutup dengan pesan tentang ekosistem industri: "Dari kacamata ekosistem industri, jika ada 100 drama yang diproduksi, 99 drama lainnya jauh lebih penting daripada satu drama yang meledak di pasaran. Sebab dari 99 produksi itulah para kreator bisa tumbuh dan berkembang."