Baru beberapa hari merayakan kemenangan Derby della Madonnina, AC Milan justru menelan pil pahit di stadion yang sama. Rossoneri kalah 0-2 dari Ferencvaros pada laga Liga Europa di San Siro, Jumat (06/11) dini hari WIB.
Kontrasnya begitu tajam. Sebelumnya, Milan menang 3-1 atas Inter Milan dalam derby sekota di San Siro. Namun, melawan Ferencvaros, tim asuhan Ruben Amorim tampil jauh dari level yang sama. Dua gol Lenny Joseph menjadi hukuman atas kesalahan fatal lini pertahanan dan kiper muda Milan, Lorenzo Torriani.
Amorim Tak Punya Penjelasan
Usai laga, Ruben Amorim tidak berusaha menutupi kekecewaannya. Kepada Sky Sport Italia, pelatih Milan itu mengaku tidak memiliki penjelasan atas performa timnya, terutama di babak pertama.
"Tidak ada penjelasan. Tidak ada yang bisa saya katakan, terutama mengenai babak pertama," kata Amorim. "Saya tidak ingat kami memainkan performa babak pertama seperti itu. Ini soal ambisi dan konsentrasi."
Amorim menilai timnya memberikan peluang kepada lawan dan membuat kesalahan yang tidak seharusnya terjadi di level ini. "Kami memberikan peluang dan membuat kesalahan bodoh. Kami tidak siap bermain sepak bola malam ini," ujarnya. "Cukup sederhana, kami tidak siap beralih dari derby ke kompetisi ini. Ketika Anda bermain dengan seragam AC Milan, Anda memikul tanggung jawab, dan Anda tidak bisa tampil seperti ini."
Masalah Kedalaman Skuad dan Jadwal Padat
Amorim juga menyoroti kedalaman skuad dan masalah kebugaran tim yang kesulitan tampil kompetitif dengan jadwal tiga hari sekali. Ia menilai timnya belum siap untuk bersaing di dua lini sekaligus.
"Kami tidak siap untuk kompetitif di dua lini. Kami harus bekerja pada pendekatan dan cara kami memandang sepak bola. Tidak ada alasan malam ini, tidak ada yang bisa saya katakan," kata Amorim.
Meski menyinggung soal jadwal dan kebugaran, Amorim menolak menjadikan hal itu sebagai alasan. Baginya, kekalahan ini adalah soal kesiapan mental dan pendekatan terhadap pertandingan, bukan sekadar soal fisik.
Kekalahan dari Ferencvaros menjadi peringatan keras bagi Milan. Kemenangan derby memang membangkitkan semangat, tetapi sepak bola tidak memberi ruang untuk berpuas diri. Di San Siro, tim yang gagal beralih fokus dari satu kompetisi ke kompetisi lain bisa dipermalukan, bahkan oleh lawan yang di atas kertas tidak diunggulkan.
