Kedua, platform streaming asing. Netflix dan Disney+ dituding merusak standar ongkos produksi. Netflix masuk ke Korea Selatan pada 2016 dan pada 2023 berkomitmen menginvestasikan US$2,5 miliar selama empat tahun. Monopoli platform asing itu dinilai merampas kemampuan perusahaan lokal mempertahankan dan mengelola hak kekayaan intelektual (IP) mereka.
Ketiga dan keempat, gempuran konten format pendek dan otomatisasi AI yang menyapu lapangan kerja. Presiden Asosiasi Produser Drama Korea Kim Jong-chang menyoroti hilangnya ruang bagi talenta muda memupuk portofolio. "Tidak ada lapangan pekerjaan. Maraknya konten format pendek dan AI semakin memperburuk masalah ini. Kami sadar harus beradaptasi dengan perubahan tren, tapi kenyataan yang kami hadapi saat ini benar-benar sangat sulit," paparnya.
Park Hae-young, penulis naskah serial hit My Mister yang juga mengetuai komite hak cipta Asosiasi Penulis TV & Radio Korea, mencontohkan matinya jenjang karier kru level bawah. "Biasanya, ketika saya merampungkan satu proyek, akan ada peluang baru yang bisa saya teruskan kepada para asisten penulis yang bekerja di bawah saya," tutur Park. "Tapi sekarang para asisten penulis itu tidak punya pekerjaan. Kita tidak boleh membiarkan industri ini menjadi terus bergantung dan dikendalikan oleh modal asing raksasa," desaknya.