Sejarah Enting-enting Gepluk
Proses pembuatan Enting-enting Gepuk terjadi di luar klenteng karena aturan tertentu. Awalnya, makanan ini dibungkus dengan daun bambu kering tanpa cap tertentu.
Namun, popularitasnya berkembang pesat, bahkan menarik minat orang Belanda. Namun, harga yang cukup mahal membuatnya terbatas bagi sebagian masyarakat.
Pada tahun 1965, terjadi perubahan signifikan dalam penampilan Enting-enting Gepuk. Kemasannya beralih dari daun bambu ke kertas, dan bentuknya yang awalnya bulat berubah menjadi segitiga, lebih mudah dalam pembuatannya.
Nama "Enting-enting Gepuk cap Klenteng" dan "2 Hoolo" diberikan oleh Khoe Tjong Hok dan keturunannya. Pada tahun 1967, produk ini mendapatkan izin sebagai produk yang dipatenkan, resmi menjadi "Enting-enting Gepuk cap Klenteng dan 2 Hoolo."
Baca juga: TERUNGKAP SUDAH! Ternyata Ini Motif WNA Amerika Bacok Mertuanya Hingga Tewas di Banjar
Kemasannya memiliki gambar klenteng dan dua hoolo, simbol labu botol yang melambangkan umur panjang, kesehatan, kemakmuran, dan berlimpahnya berkat.
Dengan segala perubahannya, Enting-enting Gepuk tetap menjadi warisan kota Salatiga yang tak ternilai.
Kisah ini juga mencakup keluarga Khoe Tjong Hok yang terlibat dalam produksi Enting-enting Gepuk. Anak-anak Khoe terlibat dalam mempertahankan tradisi ini, membantu produksi, dan mengembangkan kualitas isi makanan ini.
Hingga hari ini, produksi Enting-enting Gepuk masih berlanjut, dipimpin oleh Hartono, keturunan Khoe Tjong Hok.
Itu menunjukkan bahwa kelezatan dan warisan kuliner seperti Enting-enting Gepuk tetap hidup dan terus dikenang oleh kota Salatiga.
Saat Anda mengunjungi Salatiga, jangan lewatkan untuk mencicipi kelezatan sejarah yang terpintal dalam camilan ini. Enting-enting Gepuk adalah lebih dari sekadar makanan; itu adalah cerita yang melekat dalam setiap gigitannya.***