IHSG rontok 133 poin di sesi I perdagangan Selasa, 3 November 2026. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup sementara di level 4.963,06, turun 2,62 persen, dengan investor asing membukukan jual bersih Rp831,55 miliar.
Angka-angka kunci sesi pertama ini menggambarkan tekanan yang merata. IHSG dibuka di 5.126,52, sempat menyentuh titik terendah 4.950,55, dan mengakhiri sesi dengan 542 saham melemah berbanding 94 saham yang menguat. Seluruh sektor berada di zona negatif.
Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 3,97 persen, diikuti perindustrian 3,81 persen, energi 3,51 persen, dan infrastruktur 3,08 persen. Sektor keuangan melemah 1,61 persen, sementara teknologi menjadi yang paling ringan penurunannya dengan 0,81 persen.
Dari sisi saham, pemberat utama datang dari perbankan besar: BBRI menekan indeks 15,08 poin, disusul pelemahan BBCA, BMRI, dan BBNI. Saham TLKM, BRPT, ASII, hingga PTRO juga ikut tertekan. Di sisi arus dana asing, BUMI mencatat penjualan bersih terbesar Rp481,70 miliar dan DEWA Rp125,60 miliar.
Tekanan Bertumpuk dari Dalam dan Luar Negeri
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menyebut tekanan terhadap IHSG masih cukup besar karena konsistensi net sell asing secara harian. Sepanjang tahun berjalan, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia sudah mencapai Rp126,37 triliun.
Rupiah di kisaran Rp18.156 per dolar AS memperparah situasi, karena menggerus nilai investasi asing saat dikonversi ke dolar. Dari eksternal, aksi jual saham teknologi dan AI di Wall Street serta kehati-hatian menjelang pemilu sela Amerika Serikat menekan bursa Asia.
Dua agenda besar juga ditunggu pasar: evaluasi MSCI pada 11 November 2026 yang menentukan status pasar Indonesia, serta kebijakan BEI yang sejak Senin mengecualikan 81 saham berkategori High Shareholding Concentration dari perhitungan IHSG. Menurut Bloomberg Technoz, pelemahan IHSG sepanjang 2026 bahkan sudah mencapai 42,6 persen secara year-to-date.
Catatan penting: seluruh angka di atas adalah data sesi I. Hasil penutupan perdagangan sore hari bisa berbeda, sehingga perkembangan sesi II layak terus dipantau.
