Kenapa "nilai tukar" ramai dicari hari ini? Jawabannya ada di pergerakan rupiah pada Jumat, 30 Oktober 2026: mata uang Garuda dibuka menguat tipis ke Rp18.123 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup di Rp18.137.
Kenaikan 14 poin atau 0,08 persen itu memang tipis, tetapi cukup untuk membuat banyak orang mengecek kurs. Apalagi penguatan rupiah terjadi bersamaan dengan penguatan mata uang-mata uang Asia lainnya terhadap dolar AS.
Di balik angka itu, ada dua cerita yang bertolak belakang. Cerita pertama: dolar AS sedang melemah. Indeks dolar AS (DXY) turun 0,30 persen ke 101,731 pada pukul 09.00 WIB, setelah data inflasi PCE Amerika Serikat bulan September naik 0,5 persen bulanan dan 3,6 persen tahunan, kurang lebih sesuai ekspektasi.
Kenapa penguatannya tidak besar
Cerita kedua justru menahan rupiah. Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam sebulan, dengan WTI naik 1,71 persen ke US$103,74 per barel dan Brent naik 1,67 persen ke US$116,8 per barel. Minyak yang lebih mahal berarti kebutuhan dolar yang lebih besar.
Pasar saham juga tidak membantu. IHSG dibuka turun 31,12 poin atau 0,61 persen ke 5.066, melanjutkan pelemahan sehari sebelumnya yang menutup indeks di 5.098 setelah anjlok 184,25 poin.
Buat yang bertanya-tanya apa artinya untuk dompet: analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS. Kurs acuan JISDOR Bank Indonesia pada 29 Oktober sendiri tercatat Rp18.128. Namun ingat, kurs di bank dan money changer biasanya berbeda karena ada selisih jual-beli, dan angka penutupan hari ini baru final setelah perdagangan selesai.