Kalau Anda mencari "btc usd" pagi ini, Anda sedang mengikuti jejak jutaan orang lain. Pasangan Bitcoin terhadap dolar AS menjadi salah satu pencarian teratas Google Trends Indonesia pada Jumat, 30 Oktober 2026, setelah Bitcoin jatuh di bawah US$80.000.
Ceritanya bermula dari Washington. Pada 28 Oktober 2026, bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, memutuskan menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,75 hingga 4,00 persen. Keputusan itu lolos dengan suara 10–2, dengan Lisa Cook dan Beth Hammack sebagai dua pejabat yang menginginkan kenaikan 25 basis poin.
Keputusan menahan suku bunga sebenarnya sudah diperkirakan pasar. Masalahnya, pernyataan The Fed masih bernada waspada: inflasi disebut masih tinggi dan pejabat menegaskan kesiapan bertindak bila diperlukan. Nada seperti itu membuat aset berisiko, termasuk Bitcoin, kehilangan pijakan.
Angkanya bercerita jelas. Di sekitar rapat, Bitcoin bergerak di kisaran US$80.300–81.700. Sehari kemudian, harganya turun di bawah US$80.000, dengan laporan pasar mencatat level sekitar US$79.810 atau turun sekitar 1,5 persen.
Kenapa suku bunga Amerika memengaruhi Bitcoin
Hubungannya sederhana: ketika suku bunga tinggi, menyimpan uang di instrumen aman yang berbunga menjadi lebih menarik. Bitcoin tidak membayar bunga, sehingga harus bersaing lebih keras untuk menarik modal. Itulah sebabnya setiap sinyal dari The Fed bisa langsung menggoyang pasar kripto.
Yang menarik, investor besar belum pergi. ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus masuk lebih dari US$423 juta dalam tiga sesi. Artinya, pelemahan harga saat ini lebih mencerminkan kehati-hatian jangka pendek ketimbang hilangnya keyakinan jangka panjang.
Selanjutnya, pasar menanti data inflasi PCE dan PDB Amerika Serikat, serta rapat The Fed pada 8–9 Desember 2026. Analis teknikal mengawasi level US$79.700 sebagai penopang dan US$82.000 sebagai gerbang pemulihan. Sampai ada kejelasan, volatilitas kemungkinan masih menjadi menu utama pasar kripto.
