Frasa "hasil pemilu perdana menteri israel" menjadi salah satu pencarian teratas Google Trends Indonesia pada Jumat, 30 Oktober 2026. Wajar: pemilu Israel baru saja berakhir dengan hasil yang membuat semua pihak mengernyit — tidak ada yang menang.
Pemilu Knesset yang digelar 27 Oktober 2026 itu adalah pemilu pertama Israel sejak serangan 7 Oktober 2023. Partisipasinya luar biasa tinggi, 77,7 persen, tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Namun tingginya partisipasi tidak menghasilkan pemenang yang jelas.
Hasil penghitungan yang diumumkan Komisi Pemilihan Pusat Israel pada 29 Oktober 2026 menunjukkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meraih 53 kursi, blok oposisi Gadi Eisenkot 48 kursi, dan partai-partai Arab 19 kursi. Knesset memiliki 120 kursi, dan mayoritas membutuhkan 61 kursi. Jadi, semua kubu masih jauh dari garis finis.
Perjalanan menuju angka itu pun penuh liku. Exit poll awal sempat memberi keunggulan tipis bagi Eisenkot, bahkan ada yang menunjukkan hasil imbang. Namun seiring penghitungan berjalan, kubu Netanyahu menyalip dan bertahan di depan, dengan Likud sebagai partai tunggal terbesar (26 kursi) di atas Yashar (21 kursi).
Apa arti deadlock ini
Deadlock berarti Israel memasuki masa negosiasi koalisi yang panjang. Presiden Isaac Herzog akan berkonsultasi dengan partai-partai untuk menunjuk siapa yang mencoba membentuk pemerintahan. Selama itu, Netanyahu tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara.
Hasil resmi final dijadwalkan keluar pada 4 November 2026. Angka kursi masih bisa bergeser satu atau dua, tetapi tidak akan mengubah fakta dasarnya: tidak ada blok yang memegang mayoritas.
Yang paling menarik untuk diikuti adalah peran 19 kursi partai-partai Arab, jumlah tertinggi yang pernah mereka raih secara gabungan. Mereka berada di luar kedua blok, tetapi kini memegang kunci yang bisa menentukan siapa yang akhirnya berkuasa — bila ada pihak yang bersedia bekerja sama dengan mereka.