Baya membantahnya dan mengatakan bahwa sungai itu berada di daratan, yang menjadi wilayah kekuasaannya.
Pertengkaran mereka memanas, dan pertempuran dahsyat pun pecah kembali.
Mereka bertarung mati-matian, saling menerjang, memukul, menggigit, dan dalam sekejap, air di sekitar mereka menjadi merah oleh darah yang mengalir dari luka-luka mereka.
Mereka terus bertarung tanpa henti. Dalam pertarungan itu, Baya menggigit ekor Sura hingga ekor itu selalu membengkok ke kiri.
Akhirnya, Baya berhasil mempertahankan daerahnya, dan Sura kembali ke lautan.
Pertarungan antara Hiu Sura dan buaya Baya ini menjadi legenda yang sangat berkesan bagi masyarakat Surabaya.
Dari peristiwa ini, kemudian terbentuk lambang Kota Surabaya yang menggambarkan ikan Hiu Sura dan buaya Baya.
Selain itu, ada juga pendapat lain mengenai asal-usul nama Surabaya yang mengaitkannya dengan kata "Sura" yang berarti "jaya" atau "selamat" dan "Baya" yang berarti "bahaya."
Dengan demikian, Surabaya dapat diartikan sebagai "selamat menghadapi bahaya."