Kozo Tashima resmi mengumumkan pencalonannya sebagai Presiden FIFA, menantang petahana Gianni Infantino yang telah menjabat sejak 2016. Pemilihan Presiden FIFA dijadwalkan berlangsung pada 2027.
Nama Tashima mungkin belum sepopuler para bintang lapangan, tetapi rekam jejaknya di sepak bola Jepang dan dunia tergolong panjang. Ia adalah mantan pemain timnas Jepang yang kemudian meniti karier sebagai administrator hingga ke pucuk organisasi sepak bola negaranya.
Dari Bek Satu Klub hingga Pucuk JFA
Tashima lahir pada 21 November 1957 di Jepang. Sebagai pemain, ia berposisi sebagai bek dan menghabiskan seluruh karier klubnya di Furukawa Electric, yang kini dikenal sebagai JEF United Chiba, selama 15 tahun, dari 1980 hingga 1995. Di level timnas, ia membela Jepang pada periode 1979 hingga 1984.
Setelah gantung sepatu, Tashima beralih ke dunia administrasi. Ia pernah menjabat Presiden Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) pada 2016 hingga 2024. Pengalamannya di level global juga tidak sedikit: ia pernah menjadi Wakil Presiden FIFA dan anggota Komite Eksekutif FIFA.
Latar belakang itulah yang menjadi modal Tashima dalam pencalonannya. Ia bukan sosok dari luar sepak bola, melainkan figur yang sudah mengenal FIFA dari dalam, baik sebagai pemain, administrator federasi, maupun pejabat organisasi dunia.
Visi: Suara Negara Kecil Harus Didengar
Tashima mengusung visi yang berpusat pada transparansi dan keadilan. Ia menegaskan bahwa sepak bola adalah milik semua orang, bukan hanya segelintir pihak, dan suara negara-negara kecil juga harus didengar dalam pengambilan keputusan di FIFA.
"Sepak bola adalah milik semua orang, bukan hanya segelintir orang. Saya ingin memastikan bahwa suara negara-negara kecil juga didengar," kata Tashima. "Saya percaya bahwa sepak bola dapat menyatukan dunia. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan itu."
Selain itu, ia menekankan pentingnya pengembangan sepak bola di negara-negara berkembang, termasuk Asia dan Afrika, serta perbaikan tata kelola keuangan FIFA. Pesan tersebut menyasar federasi-federasi yang selama ini merasa kurang mendapat perhatian dari pusat kekuasaan sepak bola dunia.
Tantangan Berat Melawan Petahana
Jalan Tashima menuju kursi presiden tidak akan mudah. Infantino memiliki dukungan kuat dari banyak federasi dan dikenal sebagai sosok yang mengembangkan Piala Dunia serta meningkatkan pendapatan FIFA selama masa jabatannya.
Meski demikian, kehadiran seorang penantang dari Asia dengan rekam jejak administrasi yang panjang memberi warna tersendiri pada pemilihan 2027. Bagi federasi-federasi kecil, tawaran Tashima tentang transparansi dan pemerataan pengembangan bisa menjadi pertimbangan serius.
Apakah sepak bola dunia siap untuk perubahan di pucuk pimpinan? Jawabannya baru akan terlihat ketika para pemilik suara di kongres FIFA menentukan pilihan mereka pada 2027.