Gerai Mie Ami di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, milik Nikita Mirzani, resmi tutup. Dua alasan mencuat di balik keputusan itu.
Penutupan diumumkan melalui akun Instagram resmi @mieamiofficial dengan pesan perpisahan yang menyampaikan bahwa setiap perjalanan ada akhirnya, plus terima kasih kepada pelanggan. Gerai ini beroperasi sejak Desember 2024, menyajikan bakmi, yamin ayam manis dan asin, serta kwetiau chili oil.
Pemilik Berada dalam Tahanan
Alasan pertama berkaitan dengan status hukum pemiliknya. Sejak Maret 2025, Nikita Mirzani ditahan di Polda Metro Jaya dalam kasus dugaan pemerasan dan tindak pidana pencucian uang atas laporan Reza Gladys, seorang pengusaha skincare. Kasus ini masih berstatus dugaan dan belum menghasilkan vonis, tetapi penahanan berbulan-bulan jelas berdampak pada kelangsungan bisnis kuliner miliknya.
Berencana Pindah
Alasan kedua, gerai ini disebut akan berpindah lokasi. Dengan kata lain, yang berakhir adalah operasional di Cempaka Putih, bukan merek Mie Ami itu sendiri. Hanya saja, belum ada pengumuman mengenai alamat baru ataupun tanggal pembukaan kembali.
Sejumlah hal tetap belum terjawab: tidak ada keterangan tutup karena perintah polisi, urusan perizinan, atau higiene; tidak ada pula data omzet, jumlah karyawan, dan kabar cabang lainnya dalam keterangan yang beredar.
Sampai pengumuman berikutnya muncul, pelanggan Mie Ami harus bersabar menunggu di mana gerai kesayangan mereka akan membuka pintu lagi.
Di tengah maraknya usaha kuliner milik figur publik, perjalanan Mie Ami menawarkan pelajaran tersendiri. Nama besar memang mampu menarik pelanggan di awal, tetapi keberlangsungan usaha tetap ditentukan pengelolaan sehari-hari—sesuatu yang sulit dilakukan ketika pemiliknya berada dalam tahanan sejak Maret 2025. Kini, dengan gerai Cempaka Putih yang resmi ditutup dan rencana relokasi yang belum berwujud alamat, masa depan Mie Ami berada di persimpangan. Apakah merek ini akan membuka lembaran baru di tempat lain, atau berhenti sebagai kenangan kuliner 2024–2026, bergantung pada keputusan pengelola dan perkembangan perkara yang menjerat pemiliknya. Satu hal yang pasti, pengumuman lewat @mieamiofficial menunjukkan pengelola memilih berpamitan secara baik-baik kepada pelanggan, bukan menghilang begitu saja—sebuah sikap yang patut diapresiasi di tengah situasi sulit.
Dari pengumuman resminya, terlihat pengelola berusaha menutup gerai dengan cara yang tertib: ada pesan perpisahan, ada ucapan terima kasih, dan ada sinyal rencana pindah yang membuat pelanggan tidak sepenuhnya kehilangan harapan. Detail-detail lain—termasuk bagaimana nasib para pekerja dan apakah cabang lain ikut terdampak—belum tersedia, sehingga publik sebaiknya tidak berspekulasi. Yang dapat dilakukan sekarang hanyalah menunggu pengumuman lanjutan, sembari mencatat kasus ini sebagai contoh nyata betapa eratnya keterkaitan antara nasib sebuah usaha dan kondisi pemiliknya.