Juni 2027 menjadi penanda awal perubahan cara polisi Tokyo menangani kecelakaan lalu lintas: sebuah sistem AI akan diuji untuk merekonstruksi lokasi kejadian, dengan target beroperasi penuh pada Januari 2028.
Yang membuat rencana ini menarik adalah masalah yang ingin diselesaikannya. Di Tokyo, penyelidikan kecelakaan bisa membuat jalan ditutup dua hingga tiga jam. Bagi kota sebesar Tokyo, penutupan selama itu berarti kemacetan yang menjalar ke banyak ruas jalan lain.
Pemetaan Bergerak Jadi Kuncinya
Di jantung sistem ini ada kendaraan pemetaan bergerak. Kendaraan tersebut memindai lokasi kecelakaan dan mengumpulkan data yang kemudian diolah kecerdasan buatan menjadi rekonstruksi digital yang detail.
Artinya, jejak-jejak penting di lokasi kejadian tidak lagi harus didokumentasikan dengan cara yang menahan arus lalu lintas selama berjam-jam. Data yang terekam bisa diolah menjadi gambaran kronologi kecelakaan tanpa membuat jalan terus ditutup.
Dari Uji Coba ke Operasi Penuh
Uji coba pada Juni 2027 akan menjadi pembuktian pertama sistem ini di lapangan. Bila hasilnya memuaskan, operasi penuh menyusul pada Januari 2028.
Jika berhasil, Tokyo bisa menjadi contoh bagi kota-kota besar lain tentang bagaimana teknologi pemetaan dan kecerdasan buatan membantu pekerjaan kepolisian sekaligus mengurangi gangguan bagi pengguna jalan.