Phishing yang menunggangi viralnya video Egar dan Fina bekerja bukan dengan teknologi canggih, melainkan dengan memanfaatkan rasa penasaran. Korban tidak diretas paksa, melainkan dibujuk menyerahkan sendiri data yang paling sensitif.
Pemicunya adalah dua konten lama Egar Pradana dan Fina Theia Nafisabilla yang diunggah ulang: obrolan santai di dalam mobil dari akun @finaegar pada 28 Mei 2026, dan momen memasang jibbitz di sandal. Narasi sensasional yang ditempelkan membuat banyak orang mencari tautan versi lengkap.
Praktisi keamanan siber Muhammad Bella Buay Nunyai menjelaskan, pola ini adalah rekayasa sosial klasik. Korban diarahkan ke halaman palsu yang meniru tampilan resmi, lalu diminta mengisi data seolah-olah untuk verifikasi atau akses.
Daftar Data yang Diincar
Yang diminta bukan satu jenis data saja. Daftarnya meliputi nama pengguna, kata sandi, nomor rekening, kode OTP, dan PIN. Kombinasi itu cukup untuk membajak akun dan menguras rekening, terutama bila korban memakai kata sandi yang sama di banyak layanan.
Tautan jebakan disebar lewat kolom komentar, bio akun tak dikenal, dan pesan berantai. Ciri umumnya sama: janji video lengkap, desakan agar segera diklik, dan pengirim yang tidak bisa dilacak identitasnya.
Pertahanan yang Bisa Dilakukan
Abaikan tautan mencurigakan apa pun labelnya, aktifkan autentikasi dua faktor pada media sosial, surel, dan perbankan digital, dan jangan pernah membagikan OTP, PIN, atau kata sandi kepada siapa pun.
Dan ingat konteksnya: video yang diklaim itu belum terverifikasi, dan sosok dalam berkas yang beredar tidak dapat dikonfirmasi identitasnya. Tidak ada tautan apa pun yang layak diklik demi memburu sesuatu yang belum terbukti ada.