Nilai tukar menjadi pencarian teratas pada Senin pagi, 2 November 2026, setelah rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar AS.
Menurut laporan ANTARA, rupiah dibuka di level Rp18.149 per dolar AS pada perdagangan Senin, melemah 2 poin atau 0,01 persen dari penutupan sebelumnya Rp18.147. Pembukaan yang lesu ini terjadi saat investor menanti data inflasi dan perdagangan Indonesia.
Angka dari penyedia data lain sedikit berbeda, dan itu normal di pasar valuta asing yang bergerak cepat. Bloomberg mencatat rupiah sempat berada di Rp18.136 per dolar AS sebelum tergerus ke Rp18.148 pada pukul 09.05 WIB, sedangkan kutipan Bloomberg lainnya pada jam yang sama menunjukkan Rp18.158, turun 11 poin dari penutupan Jumat.
Tekanan regional masih kuat
Data Reuters pukul 02.07 GMT menunjukkan pelemahan meluas di Asia: won Korea Selatan minus 0,41 persen, dolar Taiwan minus 0,66 persen, ringgit Malaysia minus 0,25 persen, yen Jepang minus 0,20 persen, dan rupiah minus 0,17 persen ke Rp18.150 per dolar AS.
Konteks tahun berjalan juga suram bagi rupiah. Sejak akhir 2025 hingga 2 November 2026, rupiah sudah terkoreksi 8,15 persen, dari Rp16.670 per dolar AS. Sebagai pembanding, peso Filipina melemah 7,65 persen pada periode yang sama.
Yang ditunggu pasar hari ini
Selain data inflasi dan perdagangan, pasar mencermati tekanan jual pada surat berharga negara. Analis Gunawan Benjamin menyebut rupiah masih berada di zona merah dan tekanannya bisa meningkat bila imbal hasil SBN tenor 10 tahun, yang sempat menyentuh 7,7 persen, terus naik.
Untuk perdagangan Senin, analis Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS. Sementara proyeksi sepekan dari Ibrahim Assuaibi menempatkan rupiah pada rentang Rp18.000 hingga Rp18.320 per dolar AS, dengan kecenderungan melemah.