Ada satu frasa yang berulang dalam pembukaan PEVC 2026 di Jakarta: Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Di balik frasa itu tersimpan ambisi besar, yakni menjadikan kendaraan listrik sebagai jalan pintas industri otomotif nasional.
Ambisi itu disampaikan Ketua Umum Periklindo Moeldoko saat membuka Periklindo Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026 di Hotel Movenpick Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026. Mengusung tema "The Future of a Clean and Efficient Mobility", konferensi ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, peneliti, dan penentu standar dalam empat sesi diskusi.
Logika lompatan yang ditawarkan Moeldoko cukup lugas. Industri kendaraan konvensional sudah melaju jauh dan cepat, sehingga mengejarnya dari jalur yang sama akan selalu tertinggal. Kendaraan listrik, yang relatif baru dan masih terus berubah, memberi ruang bagi Indonesia untuk melompat, asalkan teknologinya dimaksimalkan dan ekosistemnya dibangun.
Keterlambatan yang Diakui Terus Terang
Menariknya, Moeldoko tidak menutupi posisi awal Indonesia. Ia mengakui Indonesia agak terlambat memasuki teknologi kendaraan listrik. Pengakuan itu justru menjadi alasan Periklindo gencar menyosialisasikan teknologi kendaraan listrik, agar pemahaman dan ekosistemnya tumbuh dari hulu ke hilir.
Di sisi kebijakan, fondasi yang dirujuk adalah Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 yang mengubah Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang percepatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Aturan ini memuat target komponen lokal yang menanjak dari waktu ke waktu: untuk roda dua dan tiga dari 40 persen pada 2019–2026 menjadi 60 persen pada 2027–2029 dan 80 persen mulai 2030, sedangkan untuk roda empat atau lebih dari 35 persen pada 2019–2021 dan 40 persen pada 2022–2026 menjadi 60 persen pada 2027–2029 dan 80 persen mulai 2030. Aturan yang sama juga mengatur impor kendaraan utuh, termasuk relaksasi izin impor hingga akhir 2025 bagi perusahaan yang berkomitmen berinvestasi dan berproduksi di dalam negeri.
Dari Bali ke Jakarta
PEVC 2026 melanjutkan dua edisi sebelumnya di Bali pada 2024 dan 2025, yang mencatat lebih dari 630 peserta, 41 pembicara global dan nasional, serta 31 sesi diskusi. Edisi Jakarta menandai langkah berikutnya, termasuk penandatanganan nota kesepahaman bersama Autoguard Group, Tsing Hua University, Koleksi, Northbound Strategist, Policy+, dan Taiwan Smart Electric Bicycle Association.
Ujian sesungguhnya, tentu saja, bukan pada panggung konferensi. Ia terletak pada apakah kolaborasi lintas kementerian dan pemangku kepentingan yang diserukan Moeldoko benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan, inovasi, dan kesiapan industri yang selaras, sehingga ekosistem transportasi yang efisien, mandiri, kompetitif, dan ramah lingkungan bisa terwujud.
