⌂ Beranda News 5 Trilogi Fantasi Terbaik Abad ke-21: Dari Mistborn hingga The Green Bone Saga

5 Trilogi Fantasi Terbaik Abad ke-21: Dari Mistborn hingga The Green Bone Saga

5 Trilogi Fantasi Terbaik Abad ke-21: Dari Mistborn hingga The Green Bone Saga
A A Ukuran Teks16px

Ceritanya berpusat pada Nahri, seorang seniman konversi yatim piatu di Kairo abad ke-18 yang secara tidak sengaja memanggil seorang pejuang djinn bernama Dara.

Panggilan ini memicu perjalanannya ke Daevabad, sebuah kota magis tersembunyi tempat masyarakat djinn terpecah belah oleh garis suku, dendam yang membara, dan kekerasan politik.

The City of Brass dinominasikan untuk berbagai penghargaan bergengsi, sementara The Empire of Gold diadaptasi untuk serial Netflix.

The Poppy War Trilogy: Saga Fantasi Tanpa Ragu

Trilogi The Poppy War karya R. F.

>>> Psi-Ops: The Mindgate Conspiracy Rilis Ulang di PS5 dan PS4 Bulan Ini

Kuang, yang terdiri dari The Poppy War (2018), The Dragon Republic (2019), dan The Burning God (2020), terinspirasi oleh babak paling berdarah dalam sejarah Tiongkok abad ke-20, yaitu Perang Tiongkok-Jepang Kedua dan Perang Saudara Tiongkok.

Novel-novel ini tidak gentar dalam penggambaran kekejaman perang.

Protagonisnya, Rin, adalah seorang yatim piatu perang yang berhasil masuk akademi militer elit Nikan melalui studi yang obsesif.

Ia kemudian menemukan kemampuannya untuk menyalurkan kekuatan dewa.

Kuang melacak penurunan psikologis Rin dengan ketelitian yang sama, menjadikan trilogi ini sangat menarik. Novel pertamanya bahkan dinominasikan untuk Nebula Award dan World Fantasy Award.

The First Law Trilogy: Fantasi Subversif Terbaik

Joe Abercrombie dalam trilogi The First Law, yaitu The Blade Itself (2006), Before They Are Hanged (2007), dan Last Argument of Kings (2008), membongkar konvensi fantasi epik dari dalam.

Dalam trilogi ini, penyihir tua yang bijak bisa saja menjadi penjahat, ramalan kuno bisa jadi fabrikasi politik, dan perang bisa berakhir tanpa makna.

Abercrombie menghadirkan enam karakter sudut pandang, termasuk penyiksa yang lumpuh Sand dan Glokta, barbar legendaris Logen Ninefingers, dan bangsawan manja Jezal dan Luthar.

Karakter-karakternya digambar dengan presisi psikologis yang membuat pertumbuhan minimal mereka di ketiga buku terasa lebih jujur daripada busur naratif kemenangan kebanyakan karakter fantasi.

A
Tim Redaksi
Penulis: Albert Affandie
📰 Update Terbaru