⌂ Beranda › Tren › Kenapa Hujan Meteor Trending? Leonid Mulai 6 November, Puncaknya 17-18 November 2026
Tren

Kenapa Hujan Meteor Trending? Leonid Mulai 6 November, Puncaknya 17-18 November 2026

Kenapa Hujan Meteor Trending? Leonid Mulai 6 November, Puncaknya 17-18 November 2026
Komposit lima meteor Leonid yang melesat di langit malam, 17 November 2020. • Jim Vajda / Wikimedia Commons (CC BY 2.0)
A A Ukuran Teks16px

Pencarian "hujan meteor" melonjak di Google Trends Indonesia pada Sabtu pagi, 7 November 2026. Penyebabnya adalah hujan meteor Leonid, yang sudah aktif sejak Jumat, 6 November, dan akan mencapai puncaknya pada 17 hingga 18 November 2026.

Leonid adalah hujan meteor tahunan yang berasal dari debu Komet 55P/Tempel-Tuttle. Saat Bumi melintasi aliran debu itu, butiran-butirannya terbakar di atmosfer dengan kecepatan sekitar 70 kilometer per detik, menciptakan kilatan cahaya yang melesat cepat di langit malam.

Dalam kondisi langit yang benar-benar gelap, Leonid diperkirakan menghasilkan sekitar 15 meteor per jam pada puncaknya. Angka itu adalah laju dalam kondisi ideal, bukan jaminan jumlah yang akan terlihat setiap pengamat, karena polusi cahaya dan cuaca sangat memengaruhi.

Mengapa Orang Mencari Jadwalnya Sekarang

Leonid mulai aktif pada 6 November, sehingga pencarian meningkat begitu fenomena ini dimulai. Banyak orang ingin tahu kapan waktu terbaik untuk melihatnya. Jawabannya adalah setelah tengah malam hingga menjelang subuh, karena rasi Leo, titik asal semu meteor ini, baru terbit sekitar pukul 00.20 WIB. Waktu paling ideal berada di sekitar pukul 02.39 hingga 04.29 WIB.

Soal tanggal puncak, ada sedikit perbedaan antar kalender. Sebagian kalender menulis malam 16 hingga 17 November, sementara panduan NASA mengarahkan pengamatan pada dini hari 17 hingga 18 November. Cara paling aman adalah menyiapkan beberapa malam di sekitar tanggal tersebut.

Langit November Memang Sedang Ramai

Leonid hanyalah satu dari rangkaian fenomena langit November 2026. Hujan meteor Taurid Selatan sudah memuncak pada 4 hingga 5 November, Taurid Utara menyusul pada 11 hingga 12 November, lalu ada Bulan baru pada 9 November dan supermoon pada 24 November.

Tahun ini kondisi pengamatan Leonid terbilang mendukung, karena Bulan berada pada fase kuartal pertama dan terbenam tidak lama setelah tengah malam, sehingga langit menjadi lebih gelap. Untuk menyaksikannya, tidak perlu teleskop, cukup mata telanjang, lokasi yang jauh dari lampu kota, dan pandangan langit terbuka seperti dataran tinggi Dieng atau Bromo.

Satu hal yang perlu diantisipasi adalah cuaca. November sudah memasuki musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga awan dan hujan bisa menutup langit di malam puncak. Memantau prakiraan cuaca sebelum berangkat menjadi langkah yang tidak boleh dilewatkan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru