Mengapa Malaysia Merasa Jadi Sasaran?
Menurut Anwar, perkembangan pesat Malaysia menjadi hub digital regional adalah alasannya. Kemajuan digital negara itu bisa menyaingi kemampuan di Eropa, dan kondisi tersebut meningkatkan risiko Malaysia ikut diserang. Dengan kata lain, semakin Malaysia menempatkan diri di peta digital dunia, semakin sulit baginya untuk berasumsi bahwa ancaman yang menimpa negara-negara maju akan berhenti di perbatasan orang lain.
Latar belakangnya jelas: Malaysia menargetkan status negara berpendapatan tinggi dengan bertaruh pada pengembangan kecerdasan buatan. Anwar meluncurkan insentif pajak bernilai miliaran ringgit untuk menarik investor, termasuk raksasa teknologi dan chip seperti Google dan Nvidia yang menanamkan uang di negara itu. Kehadiran investasi raksasa teknologi tersebut memperkuat posisi Malaysia sebagai hub digital regional, sekaligus menjelaskan mengapa pemerintah menilai risikonya kini setara dengan negara-negara yang lebih dulu menjadi sasaran.
Di akhir pernyataannya, Anwar menekankan kesiapan harus menjadi kerja harian. "Saya ingin menekankan bahwa atas nama pemerintah, setiap hari, semua lembaga, menteri, dan kementerian diminta terus menjalankan tugas mereka guna memastikan koordinasi yang efektif dan bahwa daerah perkotaan di bawah pengawasan mereka yang sepenuhnya siap," ujarnya. Penekanan pada kata "setiap hari" itu menunjukkan pemerintah Malaysia ingin kewaspadaan menjadi rutinitas aparatur, bukan respons sesaat setelah peringatan disampaikan.