Harga minyak dunia kembali menjadi sorotan setelah Brent ditutup pada 117,64 dolar AS per barel pada Jumat, 30 Oktober 2026, tertinggi sejak akhir April 2026.
Kenaikan harian Brent mencapai 2,4 persen, sementara WTI naik 2,08 persen ke 104,12 dolar AS per barel. Kontrak Brent Januari 2027, yang kini menjadi acuan lebih aktif, ditutup di 113,43 dolar AS per barel.
Dalam sebulan, Brent menguat 13,6 persen dan WTI 15,2 persen. Angka mingguan terlihat lebih kalem, Brent naik 0,79 persen dan WTI 0,82 persen, karena reli besar baru terjadi pada perdagangan terakhir pekan itu.
Selat Hormuz Kembali Menjadi Pusat Perhatian
Menurut laporan UKMTO, sebuah kapal tanker di Selat Hormuz terkena perangkat peledak yang dipasang dari perahu kecil. Insiden ini disebut sebagai aksi sukses pertama dengan ranjau tempel di selat tersebut sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada Februari 2026.
Mengapa satu insiden bisa mengguncang harga global? Karena Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia. Sekitar 20,9 juta barel minyak per hari melewati selat itu pada semester pertama 2025, setara sekitar seperlima konsumsi cairan dunia. Ancaman terhadap jalur itu langsung diterjemahkan pasar sebagai risiko pasokan.
Ketegangan kian terasa karena pasar juga mengantisipasi potensi eskalasi konflik Iran setelah pemilu paruh waktu AS, serta mencermati klaim serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Pelaku serangan di Hormuz sendiri belum diketahui secara pasti.
Imbasnya ke Kantong Konsumen
Di Indonesia, harga BBM pada 1 November 2026 dilaporkan belum berubah, masih mengacu pada penyesuaian terakhir sejak 2 September 2026 untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Namun fondasi tekanannya jelas: ICP September 2026 sebesar 112,81 dolar AS per barel, naik 23,38 dolar AS dari Agustus, dan rupiah di kisaran 18.120 per dolar AS.
Pasar berjangka libur akhir pekan dan baru dibuka lagi Senin, 2 November 2026. Perkembangan keamanan di Hormuz dan dinamika konflik Iran akan menjadi penentu utama arah harga berikutnya.