⌂ Beranda › Tren › Harga Minyak Dunia Trending: Kenapa Brent dan WTI Naik Turun dalam Sepekan?
Tren

Harga Minyak Dunia Trending: Kenapa Brent dan WTI Naik Turun dalam Sepekan?

Harga Minyak Dunia Trending: Kenapa Brent dan WTI Naik Turun dalam Sepekan?
Pertamina SPBU
A A Ukuran Teks16px

Harga minyak dunia menjadi salah satu pencarian teratas di Google Trends Indonesia pada Sabtu (31/10/2026). Bukan tanpa alasan: harga minyak mentah bergerak naik turun tajam dalam sepekan, dari koreksi pada Kamis hingga reli pada Jumat, semuanya dipengaruhi kabar dari Timur Tengah.

Bagi yang belum familiar, ada dua acuan harga minyak dunia yang paling sering dikutip. Brent adalah patokan minyak mentah dari Laut Utara yang dipakai pasar global, sedangkan WTI (West Texas Intermediate) adalah patokan minyak Amerika Serikat. Keduanya menjadi rujukan utama perdagangan minyak dunia, termasuk bagi Indonesia.

Pada penutupan Kamis (29/10/2026) waktu AS, Brent turun 0,38 persen menjadi 114,88 dollar AS per barel dan WTI turun 0,76 persen menjadi 102 dollar AS per barel. Penyebabnya: harapan dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang bisa meredakan kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Kenapa Jumat Berbalik Menguat?

Sehari berselang, sentimen berbalik. Pada perdagangan Jumat (30/10/2026), Brent dilaporkan menguat ke sekitar 117,80 dollar AS per barel dan WTI ke sekitar 104,92 dollar AS per barel. Pemicunya adalah kekhawatiran serangan militer AS terhadap Iran serta ancaman terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, selat sempit yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia.

Sepanjang Oktober 2026, harga minyak tercatat naik belasan persen dan bertahan di level tertinggi dalam beberapa bulan. Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai tarik-menarik antara harapan diplomasi dan risiko militer inilah yang membuat harga bergerak liar dalam sepekan terakhir.

Apa Artinya bagi Indonesia?

Meski harga dunia bergejolak, harga BBM di SPBU Indonesia pada Sabtu (31/10/2026) belum berubah dan masih mengikuti penyesuaian sejak 2 September 2026, dengan Pertalite Rp10.000 per liter di DKI Jakarta dan sekitarnya. Harga LPG 3 kg bersubsidi juga dipastikan tidak naik hingga akhir 2026.

Sebagai pembanding, Indonesian Crude Price (ICP) dari Kementerian ESDM tercatat 112,81 dollar AS per barel untuk September 2026. Selama ketegangan AS-Iran belum mereda, pasar minyak diperkirakan tetap bergerak naik turun mengikuti setiap kabar dari Timur Tengah.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru