Renovasi lapangan SUGBK bukan sekadar perbaikan rumput. Ini adalah penyesuaian besar terhadap cara stadion modern dipakai: bertanding di satu waktu, menggelar konser raksasa di waktu lain.
Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) mengumumkan dimulainya tahap konstruksi penguatan struktur Field of Play (FOP) Stadion Utama Gelora Bung Karno. Pengumuman disampaikan lewat konferensi pers di Gedung PPKGBK, Senayan, Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.
Proyek ini ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar: meningkatkan fasilitas stadion menuju standar internasional dan mengakomodasi kegiatan olahraga maupun non-olahraga. Di era ketika konser internasional makin sering memakai konsep center-stage di tengah lapangan, tuntutan terhadap kekuatan lapangan pun ikut naik.
Angka yang Menjelaskan Masalahnya
Daya dukung lapangan SUGBK saat ini berkisar 150 hingga 200 kilogram per meter persegi. Melewati batas itu bukan sekadar soal rumput rusak. Struktur lapisan bawah bisa terganggu, elevasi drainase bergeser, genangan muncul, dan kerataan lapangan berubah. Bagi stadion yang menjadi kandang Timnas Indonesia, risiko semacam itu tidak bisa dianggap ringan.
Solusinya dirancang dalam dua jalur utama: modernisasi peralatan dan penguatan fondasi lapangan. Keduanya menjadi inti program peningkatan kualitas FOP yang berjalan bertahap.
Tiga Tonggak Waktu
Pertama, pekerjaan struktural ditargetkan selesai pada November 2026. Kedua, uji coba dengan peralatan modern dijadwalkan pada Februari 2027. Ketiga, SUGBK diharapkan kembali prima dan siap digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga pada akhir April 2027.
Penjelasan itu disampaikan Kepala Divisi Pembangunan dan Pemeliharaan GBK, David Prastyan, yang menekankan pentingnya perencanaan proyek dalam menjaga dan memelihara sarana serta prasarana di GBK.
Investasi dan Batas yang Dijaga
Direktur Utama PPKGBK, Rakhmadi A. Kusumo, menyebut penguatan struktur sebagai investasi. Tujuannya ganda: menjaga SUGBK sebagai kebanggaan nasional, sekaligus memastikan stadion mampu mengakomodasi perkembangan kebutuhan penggunaan publik secara global, dengan kualitas dan keamanan yang diperkuat.
Ia juga berharap langkah ini menjadi contoh bagi stadion-stadion nasional lainnya. Namun ada batas yang ditegaskan: sebagai kawasan olahraga negara, stadion sepak bola di GBK akan selalu menjadi rumah utama bagi Timnas Indonesia dan agenda kenegaraan sebelum digunakan untuk kepentingan lainnya.
Jejak perawatan sebelumnya memperkuat pesan itu. Pada 2022, PPKGBK merevitalisasi lapisan rumput untuk Piala Dunia U-20 2023 melalui pemeriksaan laboratorium, sterilisasi media tanam, perataan lapangan, penanaman rumput, dan perawatan intensif. Artikel ini tidak menyebut angka biaya, target daya dukung baru, maupun nama konser atau acara spesifik.