Dalam industri film, Steven Spielberg sudah memiliki filmografi yang cukup kuat untuk menghentikan hampir semua perdebatan tentang sutradara terhebat dalam sejarah sinema.
Antara karya klasik yang mendefinisikan ulang genre, film blockbuster yang mengubah Hollywood, dan drama yang menjadi tonggak budaya, sangat sedikit sineas yang mampu mengumpulkan begitu banyak film penting dalam satu karier.
>>> X-Men Hadapi Alien dalam Crossover Marvel Baru, Kitty Pryde Terjebak di Tengah
Namun ada satu aspek spesifik dari warisannya yang menjelaskan mengapa namanya masih berada dalam kategori tersendiri: bukan hanya soal umur panjang, tetapi seberapa sering Spielberg berhasil membuat film penting selama periode ketika sebagian besar sutradara hanya fokus pada satu proyek.
Banyak sineas memiliki satu tahun hebat, beberapa mendapat dua atau tiga sepanjang karier. Spielberg memiliki beberapa tahun seperti itu.
1989: Petualangan dan Romansa dalam Satu Tahun
Tahun 1989 menunjukkan sifat yang akan mendefinisikan sebagian besar karier Spielberg: penolakannya untuk terikat pada satu jenis proyek.
Ada Indiana Jones and the Last Crusade, yang persis seperti yang diharapkan penonton saat itu: petualangan, humor, aksi besar, dan kemitraan inspiratif antara Harrison Ford dan Sean Connery.
Hingga kini, banyak penggemar masih menganggapnya sebagai installment terbaik dalam franchise karena memahami apa yang membuat Indiana Jones begitu abadi dan mengembangkannya tanpa terasa seperti pengulangan film sebelumnya.
Namun Spielberg merilis blockbuster itu di tahun yang sama dengan Always.
Jika Indiana Jones adalah salah satu peristiwa sinematik yang paling dinanti di eranya, Always adalah roman supernatural yang lebih tenang dan emosional.
Meski tidak pernah mencapai status yang sama, film ini menunjukkan pola yang akan berulang sepanjang kariernya: bahkan ketika ia memiliki formula sukses yang terjamin, ia tampak lebih tertarik menjelajahi wilayah baru daripada bertahan di zona nyaman.
1993: Dua Film yang Mendefinisikan Generasi
Empat tahun kemudian, Spielberg melakukan sesuatu yang hampir terasa mustahil.
Beberapa sutradara menghabiskan puluhan tahun untuk membuat satu film yang mendefinisikan generasi, tetapi ia berhasil melakukannya dengan merilis dua film dalam satu tahun.
Pada 1993, Jurassic Park hadir lebih dulu dan menjadi klasik, mengubah cara Hollywood memandang efek visual dan menetapkan standar baru untuk pembuatan film blockbuster.
Bahkan orang yang tidak terlalu tertarik pada fiksi ilmiah pun tertarik oleh ketegangan, tontonan, dan karakter yang luar biasa.
Tak lama kemudian muncullah Schindler's List, yang menjadi salah satu drama sejarah paling dihormati yang pernah dibuat.
Kontras antara kedua proyek itu tetap menjadi salah satu hal paling menarik tentang karier Spielberg.
>>> 10 Film Thriller R-Rated Terbaik dalam 50 Tahun Terakhir
Satu adalah film studio besar yang dirancang untuk menghibur penonton di seluruh dunia, sementara yang lain adalah adaptasi yang menghancurkan tentang salah satu periode paling kelam dalam sejarah manusia.
Kebanyakan sutradara menguasai satu set keterampilan, tetapi Spielberg menguasai keduanya pada saat yang sama.
1997: Sekuel dan Drama Sejarah
Pada 1997, ia kembali menunjukkan bahwa ia tidak punya minat untuk memilih antara film komersial dan proyek yang lebih ambisius.
The Lost World: Jurassic Park hadir dengan ekspektasi besar setelah kesuksesan film pertama.
Meski biasanya tidak ditempatkan di liga yang sama dengan Jurassic Park, film itu tetap menjadi hit besar dan membuktikan bahwa Spielberg tetap menjadi salah satu dari sedikit sutradara yang mampu mengubah hampir semua cerita menjadi peristiwa global.
Di tahun yang sama, ia merilis Amistad, drama sejarah lain yang berfokus pada babak nyata perdagangan budak transatlantik.
Pasangan itu semakin memperkuat aksi keseimbangan kreatif yang dimulai pada 1989, menunjukkan bahwa sineas itu selalu mencari cara untuk melangkah melampaui wilayah yang sudah dikenal, didorong oleh rasa ingin tahu kreatif yang luar biasa.
2002: Fiksi Ilmiah dan Komedi yang Mengharukan
Tahun 2002 mungkin menjadi salah satu tahun yang paling diremehkan sepanjang karier Spielberg.
Minority Report adalah salah satu film fiksi ilmiah terbaik abad ini, namun jarang dibahas dalam percakapan.
Film ini merupakan perpaduan investigasi polisi, aksi, dan refleksi tentang teknologi yang masih relevan hingga kini.
Sebagian besar perdebatan tentang pengawasan dan privasi yang menjadi umum di tahun-tahun berikutnya sudah ada di sana, tetapi film ini juga tidak pernah melupakan tujuan utamanya: menjadi thriller yang sangat menarik.
Beberapa bulan kemudian, Spielberg menghadirkan sesuatu yang benar-benar berbeda dengan Catch Me If You Can.
Ringan, menghibur, dan didukung oleh karisma Leonardo DiCaprio serta Tom Hanks, film ini adalah salah satu contoh paling jelas tentang betapa mudahnya sang sutradara berpindah nada.
Kisah menyenangkan tentang penipuan dan kejar-kejaran pada awalnya berubah menjadi studi emosional tentang identitas dan kesepian.
>>> Review: The Game Master's Deck of Fantastic Familiars & Animal Companions
Tak heran jika film ini tetap menjadi favorit di kalangan penggemar paling setia sang sutradara.