Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba karya Koyoharu Gotouge telah menjadi salah satu pilar shonen modern.
Manga-nya rampung dalam 23 volume (2016–2020) dengan akhir yang memuaskan, sementara anime-nya yang tayang sejak 2019 sukses besar di box office.
>>> Desain Baru Godzilla Terungkap dalam Godzilla Conquers the Multiverse #1
Meski demikian, beberapa anime shonen lain dinilai lebih unggul dalam hal cerita, karakter, dan eksekusi. Berikut lima masterpiece yang patut dipertimbangkan.
1. Jujutsu Kaisen: Perang Sengit antara Penyihir dan Iblis Kuno
Jujutsu Kaisen karya Gege Akutami hadir beberapa tahun setelah Demon Slayer, namun keduanya sama-sama mengusung tema pemusnahan entitas iblis.
Bedanya, Jujutsu Kaisen masuk dalam 'Dark Trio' Weekly Shonen Jump dengan narasi yang lebih psikologis dan penuh kekerasan.
Ceritanya lebih tidak terduga, dengan alur non-linear yang kreatif. Sistem kekuatan cursed energy juga jauh lebih kompleks dan memuaskan dibandingkan teknik pernapasan Demon Slayer.
Antagonis utama Ryomen Sukuna juga lebih menakutkan daripada Muzan Kibutsuji.
Satu-satunya area di mana Demon Slayer mungkin unggul adalah visual, namun MAPPA terus meningkatkan kualitas animasi Jujutsu Kaisen.
2. Yu Yu Hakusho: Pertarungan Padat dan Pengembangan Karakter Komprehensif
Yu Yu Hakusho karya Yoshihiro Togashi adalah salah satu battle shonen terbaik era 90-an.
Dengan 112 episode, anime ini hampir dua kali lebih panjang dari Demon Slayer dan berhasil mencapai lebih banyak hal.
Keduanya sama-sama mengeksplorasi keseimbangan manusia dan iblis, namun Yu Yu Hakusho memiliki waktu untuk menyelipkan petualangan slice-of-life di luar pertarungan.
Setiap anggota inti—Kuwabara, Hiei, Kurama—mendapat porsi cerita yang layak.
Perjalanan Yusuke Urameshi dari remaja nakal menjadi detektif roh yang bijak terasa lebih mengharukan dibandingkan perkembangan Tanjiro.
>>> Hanya 4 Orang Tahu Akhir Resmi Manga Berserk, Bukan Happy Ending
3. Attack on Titan: Kiamat Penuh Makna dengan Karakter Kompleks secara Moral
Attack on Titan dan Demon Slayer sama-sama anime terbesar tahun 2000-an, namun beroperasi di level berbeda.
Attack on Titan menyajikan cerita yang lebih menggugah pikiran tentang sifat perang yang tak pernah berakhir dan kecenderungan memusuhi 'yang lain'.
Awalnya tampak seperti narasi manusia versus monster, namun perlahan terungkap bahwa manusia lebih jahat dari monster mana pun.
Demon Slayer tidak pernah mengeksplorasi twist di mana Hashira ternyata lebih kejam dari Muzan.
Attack on Titan juga memiliki storytelling yang sabar; beberapa ide baru terbayar setelah beberapa musim. Demon Slayer terasa kurang 'daging' meski tetap menyenangkan.
4. Fullmetal Alchemist: Brotherhood: Kisah Persaudaraan yang Menyentuh di Dunia Fantasi
Salah satu alasan kesuksesan Demon Slayer di bioskop adalah visual memukau dari ufotable. Animasi Fullmetal Alchemist: Brotherhood (2009) tidak bisa menyainginya, namun unggul di segala aspek lain.
Keduanya berlatar dunia fantasi dengan sistem sihir berbahaya—alkimia. Edward dan Alphonse Elric, seperti Tanjiro, berpetualang untuk menyelamatkan keluarga.
Namun, Brotherhood menggunakan alkimia sebagai elemen tematik, dengan cerita yang sarat politik dan filosofis.
5. Death Note: Pertarungan Kucing-dan-Tikus yang Kejam dan Psikologis
Beberapa anime butuh waktu untuk menarik penonton, sementara Death Note langsung memikat dengan premis kuat. Light Yagami mendapatkan buku catatan yang bisa membunuh siapa pun yang namanya ditulis.
Death Note menjadi permainan pikiran yang intens saat Light berusaha menghindari deteksi dan menciptakan tatanan dunia baru. Penonton diajak merasakan rasa bersalah karena mendukung keputusan gelap Light.
>>> Resmi: Waralaba Avengers Kembali ke Layar Lebar dalam 6 Bulan
Meskipun Near dan Mello tidak sekompeten L, episode-episode akhir tetap memperluas premis dan perkembangan Light secara fundamental.