Attack on Titan menyajikan cerita yang lebih menggugah pikiran tentang sifat perang yang tak pernah berakhir dan kecenderungan memusuhi 'yang lain'.
Awalnya tampak seperti narasi manusia versus monster, namun perlahan terungkap bahwa manusia lebih jahat dari monster mana pun.
Demon Slayer tidak pernah mengeksplorasi twist di mana Hashira ternyata lebih kejam dari Muzan.
Attack on Titan juga memiliki storytelling yang sabar; beberapa ide baru terbayar setelah beberapa musim. Demon Slayer terasa kurang 'daging' meski tetap menyenangkan.
4. Fullmetal Alchemist: Brotherhood: Kisah Persaudaraan yang Menyentuh di Dunia Fantasi
Salah satu alasan kesuksesan Demon Slayer di bioskop adalah visual memukau dari ufotable. Animasi Fullmetal Alchemist: Brotherhood (2009) tidak bisa menyainginya, namun unggul di segala aspek lain.
Keduanya berlatar dunia fantasi dengan sistem sihir berbahaya—alkimia. Edward dan Alphonse Elric, seperti Tanjiro, berpetualang untuk menyelamatkan keluarga.
Namun, Brotherhood menggunakan alkimia sebagai elemen tematik, dengan cerita yang sarat politik dan filosofis.
5. Death Note: Pertarungan Kucing-dan-Tikus yang Kejam dan Psikologis
Beberapa anime butuh waktu untuk menarik penonton, sementara Death Note langsung memikat dengan premis kuat. Light Yagami mendapatkan buku catatan yang bisa membunuh siapa pun yang namanya ditulis.
Death Note menjadi permainan pikiran yang intens saat Light berusaha menghindari deteksi dan menciptakan tatanan dunia baru. Penonton diajak merasakan rasa bersalah karena mendukung keputusan gelap Light.
>>> Resmi: Waralaba Avengers Kembali ke Layar Lebar dalam 6 Bulan
Meskipun Near dan Mello tidak sekompeten L, episode-episode akhir tetap memperluas premis dan perkembangan Light secara fundamental.