Film "The Odyssey" garapan Christopher Nolan berhasil mentransformasi puisi epik berusia hampir 3.000 tahun karya Homer menjadi sebuah blockbuster sinematik modern yang banyak dipuji.
Nolan memilih untuk tidak membumikan cerita mitos ini dalam kerangka epik pedang dan sandal, melainkan membawa hampir setiap elemen supernatural dan fantastis yang dibayangkan Homer ke layar lebar.
Figur dan Makhluk Mitologi yang Muncul
Puisi "The Odyssey" begitu ikonik sehingga banyak makhluk yang ditampilkan di dalamnya telah menjadi terkenal. Namun, beberapa di antaranya lebih samar, dan Nolan tidak memberikan penjelasan mendalam.
Salah satu referensi utama adalah Cyclops, yang dalam puisi epik bernama Polyphemus. Ia adalah putra dewa laut Poseidon dan nimfa air Thoosa.
Dalam film, seperti dalam puisi, Odysseus dan krunya terjebak di gua Polyphemus dan berhasil membutakan matanya.
Nolan juga menampilkan Circe, seorang penyihir yang merupakan putri dewa matahari Helios dan nimfa kuno Perse.
Berbeda dengan penggambaran Homer yang lebih seperti dewi, Nolan memberikan interpretasi yang lebih gelap dengan elemen body-horror.
Nimfa Calypso, yang sering disebut sebagai putri Titan Atlas, juga hadir. Dalam puisi, ia menahan Odysseus selama tujuh tahun, memaksanya untuk melupakan istrinya.
Film ini menampilkan Calypso yang berusaha menahan Odysseus sebagai suaminya yang abadi.
Makhluk Sirens, yang dikenal dengan nyanyian mematikan mereka, muncul dalam film.
Meskipun Homer tidak mendeskripsikan penampilan mereka, penggambaran umum sebagai putri duyung dengan ekor ikan disiratkan dalam film melalui bidikan jarak jauh.
Nolan menciptakan pusaran air nyata untuk menggambarkan Charybdis, monster laut mitologis yang hidup di bawah batu di Selat Messina.
Monster ini tiga kali sehari menelan air, menciptakan pusaran besar yang menarik korban.
Di sisi lain selat, terdapat Scylla, monster ular berkepala enam. Deskripsi monster ini menyatakan ia memiliki enam kaki yang mampu menerkam dan melahap pelaut.
Bersama Charybdis, Scylla mewakili metafora klasik untuk terjebak di antara pilihan sulit.
Film ini juga merujuk pada Laestrygonians, kaum raksasa kanibal.
Penggambaran dalam film melibatkan seorang anak yang berteriak saat melihat kru Odysseus, memanggil sepasukan raksasa bersenjata yang memaksa mereka melarikan diri.
Rekomendasi
Awas! Sering Dijalani Pekerja Kantoran, Ini Bahaya Mager atau Sedentary Lifestyle
LINE Indonesia Luncurkan Layanan Baru, GOKS Platform Diskon untuk Mahasiswa
MGID Merevolusionerkan Penciptaan Gambar bagi Pengiklan dengan Integrasi Generatif AI
Transformasi Unik Serial Komedi Keluarga 90-an Menjadi Fiksi Ilmiah
5 Acara TV Populer di Mana Karakter Utamanya Justru Paling Dibenci Penonton