Di balik hiruk-pikuk Grand Prix Australia di Phillip Island, para pembalap MotoGP ternyata sempat menutup pintu dan menggelar rapat rahasia. Agendanya hanya satu: apakah mereka bersedia membalap di Qatar pada 6-8 November 2026?
Kabar pertemuan itu diungkap The Race, yang mengutip sumber-sumber di paddock. Menurut laporan tersebut, rapat digelar pada Kamis malam dan diikuti seluruh pembalap kelas utama. Pemungutan suara pun dilakukan, dan hasilnya disebut-sebut berpihak pada penolakan: dua pertiga peserta rapat tidak ingin membalap di Lusail.
Marco Bezzecchi dari Aprilia kemudian mengonfirmasi adanya pertemuan itu dalam wawancara dengan GPOne. Ia menggambarkan suasana rapat yang dewasa dan saling menghormati, namun menolak merinci isi diskusi. "Saya rasa mustahil membuat semua orang sepakat," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pertemuan itu lebih ditujukan agar para pembalap bisa saling berbicara satu sama lain.
Akar Masalah: Jadwal yang Bergeser
Persoalan Qatar berakar pada pergeseran jadwal. Seri yang semula digelar pada April harus dipindah ke November setelah pecahnya permusuhan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Guncangan itu sempat mengganggu perjalanan paddock pulang dari Thailand pada Maret, dan meninggalkan kekhawatiran soal keamanan di kawasan Teluk.
Meski gencatan senjata yang rapuh telah berlaku sejak April, kekhawatiran akan memburuknya situasi di sekitar pekan pemilihan paruh waktu Amerika Serikat membuat banyak pembalap gelisah. Dorna sendiri tetap bersikeras balapan berjalan, dengan alasan situasi terus dipantau dan keselamatan menjadi prioritas.
Dampak yang Lebih Luas
Apa pun ujungnya, insiden ini sudah meninggalkan jejak. Wacana pembentukan serikat pembalap kembali menguat, setelah sebelumnya sempat mencuat pada 2023 dengan sosok Sylvain Guintoli, namun gagal terwujud dan sempat ditolak mentah-mentah oleh CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta. Berbeda dengan Formula 1 yang memiliki GPDA, pembalap MotoGP selama ini hanya mengandalkan forum resmi Safety Commission yang dihadiri manajemen dan pabrikan.
Rapat rahasia di Phillip Island menjadi bukti bahwa para pembalap menginginkan ruang sendiri untuk bersuara, bebas dari tekanan tim dan penyelenggara. Kini semua mata tertuju ke Lusail: apakah balapan 6-8 November benar-benar digelar dengan grid penuh, atau justru menjadi momen ketika suara pembalap akhirnya didengar.