⌂ Beranda News 9 Tahun Lalu Netflix Merilis Adaptasi Anime yang Dikritik Pedas
News

9 Tahun Lalu Netflix Merilis Adaptasi Anime yang Dikritik Pedas

9 Tahun Lalu Netflix Merilis Adaptasi Anime yang Dikritik Pedas
9 Tahun Lalu Netflix Merilis Adaptasi Anime yang Dikritik Pedas
A A Ukuran Teks16px

Industri perfilman Hollywood sering kali mengulangi kesalahan serupa saat mengadaptasi anime Jepang untuk penonton Amerika.

Studio besar kerap memilih bintang terkenal untuk peran yang sebenarnya memiliki identitas etnis tertentu secara spesifik.

>>> 5 Film Fantasi Terbaik yang Tetap Menarik untuk Penonton Awam

Mereka juga sering menyederhanakan mitologi yang kompleks serta memadatkan musim panjang ke dalam durasi film tunggal.

Netflix mengikuti pola keliru tersebut ketika merilis film Death Note pada tanggal 24 Agustus 2017.

Kegagalan Adaptasi Death Note di Netflix

Disutradarai oleh Adam Wingard, film ini memindahkan latar cerita dari Jepang ke kota Seattle di Amerika.

Cerita mengikuti karakter Light Turner yang diperankan oleh Nat Wolff sebagai siswa sekolah menengah.

Ia menemukan sebuah buku catatan misterius yang mampu membunuh siapa saja saat nama mereka ditulis.

Detektif misterius bernama L yang diperankan LaKeith Stanfield kemudian menyelidiki serangkaian kematian tersebut.

Mia Sutton yang diperankan Margaret Qualley bertindak sebagai kekasih sekaligus kaki tangan Light.

Sementara itu, dewa kematian bernama Ryuk diisi suaranya oleh Willem Dafoe.

Meskipun mengusung premis serupa, film ini mendapati ulasan yang sangat negatif dari publik.

Death Note mencatatkan skor 36 persen di Rotten Tomatoes dengan penilaian audiens yang jauh lebih rendah.

Film ini meninggalkan duel psikologis antara Light dan L yang menjadi daya tarik utama.

Kisah dalam manga aslinya merentang hingga dua belas volume penuh.

>>> Arah Cerita Baru Stranger Things Buat Penggemar Cemas di Netflix

Transformasi Light menjadi penjahat terjadi secara perlahan melalui akumulasi kebohongan serta pembunuhan.

Film arahan Wingard justru merangkum seluruh kisah tersebut ke dalam satu durasi film saja.

Light Turner didorong menggunakan buku catatan itu karena pengaruh romantis dari Mia.

Hal ini membuat hubungan antara Light dan L berubah menjadi investigasi kriminal biasa.

Peran Willem Dafoe yang Terbuang

Para penggemar sempat merasa antusias menyambut keterlibatan Willem Dafoe sebagai pengisi suara Ryuk.

Karakteristik sang aktor dinilai sangat cocok untuk menghidupkan sosok dewa kematian tersebut.

Namun bakat besar Dafoe harus terhalang oleh berbagai pilihan kreatif dari tim produksi.

Keputusan membuat Ryuk sepenuhnya digital menjadi sebuah keputusan yang kurang maksimal.

Gerakan fisik Ryuk di lokasi syuting dikerjakan oleh aktor setinggi tujuh kaki bernama Jason Liles.

Dafoe hanya merekam suara serta sesi penangkapan gerak wajah secara terpisah.

Kehadiran Dafoe yang terbatas akhirnya menyia-nyiakan potensi pemilihan pemeran yang luar biasa.

>>> Tanggapan Menarik James Gunn Atas Kritik Kontinuitas DCU Dan Pilihan Hero

Pengalaman buruk tersebut menjadi pelajaran bagi Netflix dalam menggarap proyek adaptasi selanjutnya.

📰 Update Terbaru