Industri anime semakin mendunia, mendorong maraknya adaptasi live-action.
Netflix bahkan sedang mengembangkan adaptasi 'Solo Leveling', menyusul rilisnya beberapa adaptasi tahun ini seperti 'One Piece' dan 'Viral Hit'.
>>> The Wheel of Time Kembali dengan Cerita Baru di Board Game 2027
Namun, tren ini juga menyoroti sisi negatifnya. Beberapa anime memiliki elemen unik yang sulit ditangkap dalam format film live-action, berisiko kehilangan daya tarik utamanya.
Anime yang Berisiko Kehilangan Pesona Asli
Lima anime berikut dianggap sebaiknya tidak diadaptasi ke dalam format film live-action, setidaknya tidak dalam format film mandiri yang membatasi narasi.
Pertama adalah 'Dandadan'.
Keunikan cerita dan gaya komedi yang absurd, seperti yang terlihat pada karakter Okarun, sangat bergantung pada medium animasi.
Mencoba mereplikasi humor khas anime dalam live-action seringkali berujung pada hasil yang kurang memuaskan, seperti yang terlihat pada 'Viral Hit'.
Selanjutnya, 'Frieren: Beyond Journey’s End' memiliki keindahan pada alur cerita yang lambat dan kontemplatif.
Format film akan menghilangkan esensi ini, sementara elemen fantasi yang kaya membutuhkan anggaran produksi setara 'Game of Thrones' agar bisa tertangkap dengan baik.
>>> 5 RPG yang Dianggap Lebih Baik dari Skyrim
'Jujutsu Kaisen' juga menghadapi tantangan serupa.
Sifatnya yang gelap dan kompleks, serta karakter ikonik seperti Gojo Satoru, sulit untuk dibangun fondasi dunianya dan dieksplorasi karakternya secara mendalam dalam format film yang terbatas waktu.
Kemudian, 'Demon Slayer' sangat bergantung pada animasi visual yang memukau dari Ufotable.
Perpaduan unik animasi 2D dan 3D yang menjadi ciri khasnya hampir mustahil direplikasi dalam live-action, sehingga berpotensi kehilangan daya tarik utamanya.
Terakhir, 'Vinland Saga'.
Meskipun memiliki elemen yang lebih membumi, kedalaman narasi Thorfinn yang penuh balas dendam hingga penebusan sulit ditangkap sepenuhnya dalam film.
Adaptasi live-action yang sukses membutuhkan skala produksi setara 'Vikings' untuk benar-benar mewakili perjalanannya.
>>> 5 Peta Terburuk dalam Sejarah Call of Duty yang Dibenci Pemain
Jika adaptasi live-action tidak dapat menangkap esensi cerita dan visual yang membuat anime-anime ini dicintai, lebih baik mereka tetap berada dalam medium aslinya.