Hubungan antara kritikus dan penonton seringkali rumit, terutama di dunia perfilman.
Ada film yang mendapat pujian kritis sekaligus laris manis, namun tak sedikit pula yang diabaikan kritikus namun dicintai penonton, atau sebaliknya.
>>> One Piece Picu Kelangkaan Tak Terduga di Weekly Shonen Jump
Dalam beberapa kasus, ulasan negatif yang buruk pun tidak menghalangi sebuah film untuk meraih kesuksesan besar di box office.
Era 1990-an menjadi saksi bisu beberapa film yang menentang logika ini, bahkan ada yang kemudian menjadi film kultus.
The Waterboy (1998)
Pada tahun 1998, Adam Sandler tengah membangun basis penggemar setianya. Film 'The Waterboy' menguji loyalitas tersebut dengan menampilkan persona Sandler yang unik.
Sandler berperan sebagai Bobby Boucher, seorang anak laki-laki yang canggung secara sosial yang menjadi bintang tak terduga dalam tim sepak bola kampus berkat bakatnya dalam menjegal lawan.
Alur ceritanya dipenuhi sketsa slapstick dan kekhasan Selatan yang dibalut kisah underdog sederhana.
Tak heran, para kritikus umumnya bersikap hostile, menyebut film ini malas, berisik, dan bodoh.
Namun, penonton melihatnya sebagai komedi olahraga yang ceria dan absurd yang bisa mereka kutip berulang kali.
Film ini debut di peringkat nomor satu di Amerika Utara dan bertahan selama beberapa minggu, menghasilkan lebih dari $161 juta secara domestik dan $186 juta di seluruh dunia.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa gaya komedi Sandler memiliki audiens besar yang tidak memerlukan izin kritikus untuk tertawa.
Mortal Kombat (1995)
Adaptasi video game jarang menjadi favorit kritikus, namun 'Mortal Kombat' pada tahun 1995 membawanya ke level baru sambil tetap memenuhi apa yang diinginkan audiens targetnya.
Film fantasi seni bela diri arahan Paul W. S.
Anderson ini mengikuti tiga petarung yang dipanggil ke sebuah pulau misterius untuk mempertahankan Earthrealm dari penyihir Shang Tsung.
Premis ini berfungsi sebagai kerangka untuk pertarungan akrobatik dan dialog ikonik.
Para kritikus terkejut dengan plot tipis dan dialog cheesy, menyebutnya sebagai tontonan efek visual tanpa kedalaman.