Xbox tengah berada dalam tekanan besar.
Di tengah gelombang PHK dan penutupan studio, CEO Xbox Asha Sharma justru menyuarakan ambisi besar: menjadikan Xbox tempat "dunia bermain dan berkreasi" serta menghibur lebih dari satu miliar orang setiap hari.
>>> Jeff Lemire Ungkap Alasan Phantom Road Hiatus Panjang: Penjualan Rendah
Target itu dinilai terlalu muluk. Bahkan untuk raksasa industri sekalipun, angka tersebut hampir mustahil dicapai.
Apalagi Xbox saat ini masih tertinggal jauh dari pesaingnya, PlayStation dan Nintendo.
Target Satu Miliar Pemain Harian Dinilai Tidak Realistis
Saat ini, Xbox hanya menjangkau sekitar satu miliar pemain per tahun. Sebagai perbandingan, Steam memiliki sekitar 150 juta pengguna aktif bulanan, sementara PlayStation mencapai 125 juta.
Untuk mencapai satu miliar pengguna harian, Xbox harus menembus pasar yang belum tergarap seperti Afrika, Amerika Selatan, dan Timur Tengah.
Itu adalah ekspansi skala global yang nyaris mustahil.
Jika target itu termasuk layanan streaming seperti Netflix atau Twitch yang diakses melalui Xbox, justru menunjukkan ketergantungan pada pihak ketiga.
Pengguna yang hanya ingin menonton Disney+ tidak punya alasan membeli konsol Xbox.
Di sisi lain, Microsoft terus mengeluarkan uang untuk investasi AI yang belum membuahkan hasil. Ambisi besar ini terkesan terlalu percaya diri di tengah kondisi pasar yang semakin kompetitif.
>>> Jepang Rilis Peringkat 10 Anime Teratas 2026 Versi Streaming Resmi
Kekhawatiran Mengulangi Nasib Sega
Microsoft selalu menuntut margin keuntungan tinggi dari divisi Xbox, lebih tinggi dari rata-rata industri game. Hal ini digunakan untuk membenarkan penutupan studio yang tidak memenuhi ekspektasi.
Namun kenyataannya, Xbox tetap berada di posisi ketiga dalam persaingan konsol, di bawah Sony dan Nintendo.
Pasar konsol pun semakin menyusut karena harga naik dan persaingan dari platform mobile.
Situasi ini mengingatkan pada Sega di era 1990-an.
Dreamcast gagal bersaing dengan PS2, GameCube, dan Xbox original, sehingga Sega memutuskan keluar dari pasar konsol dan menjadi penerbit game pihak ketiga.
Jika Xbox terus memaksakan target yang tidak realistis, bukan tidak mungkin Microsoft akan mengambil langkah serupa.
Merek Xbox mungkin tetap dipertahankan, tetapi fokus beralih menjadi penerbit game, bukan produsen konsol.
Transisi seperti itu pasti akan memakan waktu dan menimbulkan lebih banyak PHK. Industri game saat ini tidak memiliki kemewahan waktu seperti yang dimiliki Sega dulu.
>>> Critical Role Kembali ke Daggerheart dengan Seri Baru Age of Umbra: Sallowlands
Langkah Xbox saat ini dinilai terlalu ambisius dan berisiko gagal total. Kekhawatiran bahwa Xbox akan mengulangi bencana Sega semakin nyata.
