Tepat 41 tahun yang lalu, sebuah film fiksi ilmiah tentang perjalanan waktu dirilis di bioskop dan langsung mengubah budaya populer.
Film itu adalah Back to the Future.
>>> Silo Season 3: Common dan Alexandria Riley Ungkap Perubahan Besar
Hingga kini, film tersebut masih dianggap sebagai salah satu karya terbaik dalam genre perjalanan waktu.
Ceritanya yang cerdas, perpaduan humor dan emosi, serta paradoks waktu yang menarik membuatnya tetap relevan.
Namun, di balik kesuksesannya, film ini nyaris tidak pernah terwujud. Naskahnya ditolak oleh studio sebanyak 44 kali sebelum akhirnya mendapat lampu hijau.
Perjuangan Panjang Menuju Layar Lebar
Pada 3 Juli 1985, Back to the Future tayang perdana. Film ini mengikuti Marty McFly (Michael J.
Fox) yang secara tidak sengaja kembali ke tahun 1955 menggunakan mesin waktu buatan Doc Brown (Christopher Lloyd).
Di masa lalu, Marty mengganggu pertemuan pertama orang tuanya, membahayakan keberadaannya sendiri. Ia harus memperbaiki garis waktu sebelum kembali ke masa depan.
Konsep yang kini terlihat sederhana itu ternyata sulit dijual ke Hollywood.
Para eksekutif studio bingung mengkategorikan film ini: terlalu manis bagi Columbia Pictures, terlalu berisiko bagi Disney karena alur Lorraine yang tertarik pada Marty.
Bahkan Disney menolak karena khawatir adegan tersebut tidak cocok untuk citra keluarga mereka. Ironisnya, adegan itu kini menjadi salah satu momen paling ikonik.
Peran Kunci Steven Spielberg
Situasi berubah ketika Steven Spielberg terlibat. Sutradara legendaris itu sudah membaca naskah dan menyukainya.
Namun, kreator Bob Gale dan Robert Zemeckis awalnya ragu karena dua kolaborasi sebelumnya dengan Spielberg kurang sukses secara komersial.
>>> 9 Momen Hunter x Hunter Mengacaukan Ekspektasi Penggemar
Setelah Zemeckis menyutradarai Romancing the Stone yang sukses, reputasinya meningkat. Spielberg resmi bergabung, dan Universal Pictures yang sebelumnya menolak akhirnya memberi lampu hijau.
Menariknya, naskah inti tidak banyak berubah selama bertahun-tahun.
Marty sudah kembali ke masa lalu, orang tuanya harus jatuh cinta lagi, dan risiko lenyap dari timeline sudah menjadi konflik utama sejak awal.
Hollywood menolak naskah yang sama puluhan kali sebelum akhirnya menjadi salah satu skenario terbaik dalam sejarah perfilman.
Perubahan Besar dari Naskah Awal
Beberapa elemen ikonik ternyata tidak ada dalam draf pertama.
Doc Brown awalnya dipanggil Professor Brown, karakter Jennifer memiliki nama berbeda, dan Marty digambarkan lebih egois dengan tujuan utama mencari uang.
Perubahan terbesar adalah mesin waktu. DeLorean yang legendaris tidak ada dalam naskah asli.
Sebagai gantinya, mesin waktu berupa lemari es yang ditenagai teknologi eksperimental.
Jika lemari es tetap digunakan, adegan ikonik di menara jam tidak akan pernah ada.
Marty harus membawa lemari es ke lokasi uji coba nuklir di Nevada untuk memanfaatkan energi ledakan.
>>> Pencipta One Piece Ungkap Misteri Buah Iblis Terbang Setelah 25 Tahun
Untungnya, perubahan dilakukan dan DeLorean menjadi simbol abadi film ini.