Empat dekade terakhir, Tim Burton menjadi salah satu sutradara paling produktif di Hollywood. Gaya khasnya melintasi genre dan menghasilkan miliaran dolar di box office.
Banyak yang mengenalnya lewat Beetlejuice, Edward Scissorhands, atau The Nightmare Before Christmas. Namun, karier filmnya justru dimulai dari sebuah komedi absurd tentang pria dewasa yang kehilangan sepedanya.
>>> Teori Penggemar: Karakter Rahasia Spider-Man: Brand New Day Perbaiki Masalah No Way Home
Tepat 41 tahun lalu, pada 9 Agustus 1985, Pee-wee's Big Adventure tayang di bioskop.
Film ini menjadi debut penyutradaraan Burton dan memperkenalkan karakter Pee-wee Herman ke khalayak luas.
Sebelumnya, Pee-wee Herman hanya dikenal lewat pertunjukan panggung kultus. Film ini mengubahnya menjadi fenomena pop yang bertahan hingga kini.
Gaya Khas Burton Sudah Terlihat dari Film Pertama
Meski debut, Pee-wee's Big Adventure sudah memuat banyak elemen yang menjadi ciri khas Burton.
Ada animasi singkat saat Pee-wee berjalan dalam gelap, mengingatkan pada latar belakang Burton sebagai animator.
Salah satu momen ikoniknya adalah adegan stop-motion ketika Large Marge memperlihatkan wajah aslinya. Ini menunjukkan ketertarikan Burton pada animasi yang kelak melekat pada karyanya.
Pengaruh ekspresionisme Jerman juga tampak jelas. Bayangan memanjang dan arsitektur aneh ala Fritz Lang atau F.
W. Murnau menjadi bahasa visual yang mendasar bagi Burton.
Dalam film ini, bayangan panjang Pee-wee saat mendekati paranormal atau mimpi dengan badut yang mengoperasi sepedanya adalah contoh nyata pengaruh tersebut.
Namun, pengaruh Burton tidak hanya pada aspek visual. Secara fundamental, Pee-wee's Big Adventure adalah kisah tentang seorang outsider.
Pee-wee memang tidak diejek tetangganya, kecuali oleh Francis dan rombongan tur di Alamo. Namun, film ini segera menunjukkan bahwa ia berbeda dari orang lain.
Sepanjang filmografi Burton, karakter-karakter seperti Batman, Ed Wood, Edward Scissorhands, atau Margaret Keane dalam Big Eyes memiliki sifat yang sama: tidak cocok dengan lingkungannya.
Pee-wee mungkin diakhiri dengan banyak teman, tetapi ia tetap berjalan mengikuti iramanya sendiri. Ini menjadi benang merah naratif yang paling khas dari Burton.
