Tahun 1988 menjadi saksi lahirnya beberapa acara TV kultus yang kemudian digemari oleh anak-anak yang tumbuh di era 1990-an.
Meskipun era 90-an memiliki kultus klasik seperti Buffy the Vampire Slayer, akhir 80-an juga menghasilkan sejumlah tayangan yang berpengaruh besar terhadap selera pop kultur anak 90-an.
>>> Unlimited Void: Fakta-Fakta Domain Expansion Gojo Satoru di Jujutsu Kaisen
Dari Mystery Science Theater 3000 hingga Roseanne, acara-acara ini membentuk cara serial selanjutnya menangani berbagai genre, mulai dari horor kartun hingga komedi kehidupan keluarga.
A Pup Named Scooby-Doo
Tayang perdana pada 1988, A Pup Named Scooby-Doo merupakan acara Scooby-Doo kedelapan dan pertama yang menampilkan versi muda para karakter aslinya.
Serial ABC ini hanya berlangsung satu musim dengan total 27 episode selama tiga tahun penayangan.
Meskipun singkat, A Pup Named Scooby-Doo menjadi salah satu kartun paling berpengaruh di era 80-an.
Ko-kreator Tom Ruegger kemudian meninggalkan acara ini untuk menciptakan Tiny Toon Adventures, lalu mengerjakan Animaniacs, Freakazoid! , dan Histeria!
Rangkaian kartun anarkis dan absurd tersebut memengaruhi hits selanjutnya seperti Gravity Falls dan bahkan The Simpsons.
Humor sadar diri yang disuntikkan A Pup Named Scooby-Doo ke dalam DNA waralaba ini bertahan selama beberapa dekade, dari film live-action 2000-an hingga Velma yang kontroversial di HBO Max.
Roseanne
Dari Married… With Children hingga The Fresh Prince of Bel Air, ada banyak sitkom keluarga legendaris di era 90-an.
>>> Komik Batman Paling Penting Justru Terlupakan oleh Penggemar Terbesarnya
Namun, Roseanne berhasil memecahkan cetakan saat debut pada Oktober 1988.
Berbeda dengan sitkom keluarga lain yang cenderung absurd, Roseanne menawarkan penggambaran kehidupan kelas pekerja di Amerika yang jujur dan tanpa basa-basi.
Berpusat pada tokoh utama Roseanne Conner, acara ini mengikuti keluarga kelas pekerja yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup sambil menghadapi masalah nyata seperti pengangguran, disabilitas, kemiskinan, depresi, dan kecanduan.
Meskipun terdengar gelap, kesuksesan besar acara ini justru karena kemampuannya membuat topik-topik tersebut terasa relevan dan lucu, seperti yang kemudian dilakukan Malcolm in the Middle.
