⌂ Beranda › Tren › Mengenal Kenduri Sko, Upacara Adat Terbesar Suku Kerinci di Jambi
Tren

Mengenal Kenduri Sko, Upacara Adat Terbesar Suku Kerinci di Jambi

Mengenal Kenduri Sko, Upacara Adat Terbesar Suku Kerinci di Jambi
Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
A A Ukuran Teks16px

Bagi masyarakat Suku Kerinci, Kenduri Sko bukan sekadar perayaan. Upacara adat sakral terbesar suku ini adalah salah satu pilar utama identitas budaya Kerinci, dan pada Sabtu, 7 November 2026, warga kembali menghidupkannya dalam rangkaian prosesi yang khidmat dan meriah.

Kenduri Sko mempertemukan seluruh elemen masyarakat dalam sebuah perayaan kolosal. Di dalamnya ada rasa syukur atas hasil panen, pembersihan benda-benda pusaka warisan leluhur, dan pengukuhan pemimpin adat baru yang menerima gelar Sko. Semua itu terangkum dalam satu nama: kenduri yang berarti perjamuan makan atau selamatan, dan sko yang berasal dari kata saka, pusaka, baik berupa benda, tanah kaum, maupun gelar adat.

Makna di Balik Setiap Prosesi

Prosesi dibuka dengan Ngasap Negeri. Para pemangku adat berjalan kaki mengelilingi kampung sambil membawa peralatan ritual, sebuah langkah simbolis dalam rangka menolak bala. Barisan laki-laki berbaju hitam-emas dan bertopi runcing itu melintasi jalan kampung di antara rumah kayu tradisional, membawa bendera merah, dengan pegunungan berkabut mengiringi dari kejauhan.

Selanjutnya ada Negak Karangmentang, saat Anak Jantan Depati Ninek Mamak mendirikan Karangmentang. Tiang bambu tinggi ditegakkan bersama-sama oleh para pemangku adat, dengan bunga putih terpasang di ujungnya.

Puncak di Tepi Sungai Batang Merao

Puncak Kenduri Sko Tigo Luhah Semurup berlangsung di tepi Sungai Batang Merao, Kerinci, Jambi. Anak Betino dan pemangku adat Kedepatian Tigo Luhah Semurup melakukan ritual di tengah sesajen, termasuk pisang hijau dan tasbih, sementara asap dupa mengepul dan payung kuning berumbai terangkat di sisi kanan. Di belakang mereka, para pemangku adat berdiri dengan tongkat di tangan, mengenakan busana hitam-emas dan sarung merah bermotif.

Sebagai penutup, ribuan warga mengikuti tradisi Mandi Balimau, simbol pembersihan diri yang menandai berakhirnya rangkaian Kenduri Sko. Karena digelar secara periodik, biasanya lima atau sepuluh tahun sekali, bergantung pada musyawarah adat atau pengangkatan pemangku adat baru, setiap pergelarannya menjadi momen yang dinanti seluruh desa.

Delapan foto karya Wahdi Septiawan dari ANTARA FOTO merekam seluruh rangkaian tersebut, dari pengangkatan keris di hadapan barisan pemangku adat hingga kerumunan warga di tepi sungai, menjadi arsip visual atas tradisi yang terus dijaga masyarakat Kerinci dari generasi ke generasi.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru