Angka 4,45 triliun yen menjadi penanda baru bagi industri anime Jepang: pertama kali pasarnya menembus 4 triliun yen, dengan nilai setara Rp512,03 triliun.
Data itu disampaikan Association of Japanese Animations pada Jumat (30/10) dan dikutip Kyodo News. Dengan kurs 1 yen = Rp115,06, capaian 2025 tersebut lebih dari dua kali lipat nilai 1,8 triliun yen pada 2015 — lompatan satu dekade yang terutama didorong pasar luar negeri.
Streaming Mengubah Peta Pasar
Penjualan luar negeri sebesar 2,54 triliun yen kini melampaui penjualan domestik, pertama kali sejak 2020. Ketua asosiasi, Kazuko Ishikawa, dikutip singkat bahwa pasar dan potensi animasi Jepang terus meluas seiring karya-karyanya semakin dikenal di dunia. Ekspansi layanan streaming global, termasuk Netflix, disebut membuat animasi Jepang lebih mudah diakses di dalam dan luar negeri di tengah lonjakan popularitas pascapandemi.
Pemerintah Jepang merespons tren itu dengan target besar: penjualan konten luar negeri seperti game, anime, dan manga menjadi 20 triliun yen pada 2033, naik dari sekitar 5,8 triliun yen pada 2023. Pada 2023, penjualan konten menempati peringkat kedua setelah industri otomotif.
Infinity Castle dan Rekor Box Office AS
Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle menjadi contoh nyata daya tarik global itu. Film tersebut mengumpulkan 40,2 miliar yen di Jepang dan lebih dari 100 miliar yen secara global. Di Amerika Serikat, pekan pertamanya meraup US$70 juta atau sekitar Rp1,1 triliun, memecahkan rekor debut box office AS terbesar untuk film anime.
Rekor yang dipecahkan telah bertahan 26 tahun, milik Pokemon: The First Movie - Mewtwo Strikes Back (1999) sebesar US$31 juta. Infinity Castle juga menjadi film Jepang terlaris, menyalip Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba - The Movie: Mugen Train (2020) dan Your Name (2016). Sebagai bagian pertama trilogi penutup arc Infinity Castle, film ini melanjutkan kisah Tanjiro Kamado dan Korps Pembasmi Iblis.