Judul artikel sumbernya sudah menggambarkan ironi musim ini: alih-alih tsunami trofi, Manchester United kini justru berjuang menghindari degradasi.
Kekalahan 2-0 dari Chelsea di Stamford Bridge, Sabtu (31/10/2026), menjadi bukti terbaru. Rogers mencetak gol pembuka di awal babak kedua, sebelum Palmer mengunci kemenangan lewat penalti menyusul kartu kuning kedua Martinez. Sebelum gol-gol itu, United sebenarnya punya peluang emas — Amad Diallo tiga kali gagal memanfaatkan kesempatan, dan Bruno Fernandes juga menyia-nyiakan peluang.
Masalahnya Bukan Sekadar Hasil
United kini mengoleksi tujuh poin dari sembilan laga Liga Inggris, dengan catatan satu kemenangan, empat imbang, dan empat kekalahan serta selisih gol minus lima. Catatan tanpa kemenangan mereka sudah mencapai sembilan pertandingan di semua kompetisi, dan empat dari lima laga terakhir berakhir kalah.
Artikel sumber juga menyoroti sisi manajerial: struktur kepemimpinan klub dinilai ragu mengambil keputusan besar selagi tim terus merosot. Keputusan mempertahankan Carrick setelah kekalahan 0-3 dari Bournemouth — yang disebut sebagai start terburuk sejak 1986 — belum membuahkan perbaikan, karena satu laga berikutnya justru berakhir dengan kekalahan lagi.
Apa yang Menanti?
Tiga ujian berikutnya akan sangat menentukan: menjamu Roma di Liga Champions pada tengah pekan, menghadapi Aston Villa yang sedang bagus, dan bertandang ke Liverpool setelah jeda internasional. Dengan Shaw dan Sesko cedera serta dana Januari yang disebut terbatas, Carrick harus menemukan jawaban dari skuad yang ada — bukan dari bursa transfer.