Di tengah penutupan lapangan Stadion Utama Gelora Bung Karno hingga April 2027, satu pernyataan PPKGBK menjadi penanda penting: setelah pekerjaan selesai, Timnas Indonesia didahulukan, bukan Persija.
Penguatan struktur Field of Play (FOP) SUGBK dimulai pada 30 Oktober 2026. Selama proses itu, tidak ada pertandingan sepak bola yang bisa digelar di lapangan utama, sehingga baik Timnas maupun Persija sama-sama harus mengungsi. Namun nasib keduanya setelah renovasi tidak sama.
Prioritas yang Diumumkan Terbuka
Direktur Utama PPKGBK Rakhmadi A. Kusumo menegaskan Timnas menjadi salah satu prioritas dalam penentuan penggunaan stadion setelah pekerjaan selesai. Meski begitu, ia tidak mau menjanjikan tanggal pasti, karena kondisi rumput masih harus dipantau pada Januari atau Februari 2027.
Sikap hati-hati itu masuk akal: rumput baru baru ditanam pada akhir Januari 2027 dan butuh waktu tumbuh hingga layak dipakai bertanding. Jika dipaksakan, kualitas lapangan justru kembali bermasalah.
Mengapa Persija Paling Terjepit
Persija sudah mendaftarkan SUGBK sebagai markas Super League 2026/2027, sehingga penutupan ini langsung mengganggu jadwal kandangnya. Jakarta International Stadium memang pernah didaftarkan sebagai alternatif, tetapi pemain dan pelatih mengeluhkan kondisi rumputnya. Stadion Patriot Candrabhaga di Bekasi pun hanya pernah menjadi kandang sementara.
Akar masalahnya adalah daya dukung lapangan yang hanya 150-200 kg per meter persegi. Beban panggung konser besar dengan panggung tengah berpotensi merusak lapisan bawah dan drainase, menyebabkan genangan serta permukaan tidak rata. Proyek ini, kata PPKGBK, adalah investasi agar SUGBK tetap berstandar internasional untuk olahraga maupun hiburan, terbukti dari konser BTS pada 26, 27, dan 29 Desember 2026 serta Westlife pada 23 Januari 2027 yang tetap berjalan dengan penutup rumput.