Dalam lanskap sinema yang kini dipenuhi adaptasi video game, Death Stranding garapan A24 berdiri di antara yang lain.
Film yang diadaptasi dari game besutan Hideo Kojima tahun 2019 ini memang terasa dirancang untuk Hollywood sejak awal, dengan dunia yang unik, narasi yang kuat, dan deretan aktor papan atas.
>>> The Witcher Season 5 Diam-diam Ditunda Netflix Setelah Review Buruk
Film yang kabarnya akan memulai produksi pada 2027 ini ditulis dan disutradarai oleh Michael Sarnoski, sineas di balik film Pig.
Meski belum banyak yang diketahui, Sarnoski baru-baru ini memberi sedikit bocoran bahwa film fiksi ilmiah ini akan menjadi petualangan murni yang mengangkat konsep berat seperti batas antara hidup dan mati, isolasi, koneksi, dan jarak yang memisahkan manusia.
Dunia Sci-Fi Death Stranding yang Unik
Komentar Sarnoski mungkin terdengar sederhana, tetapi ini mengubah Death Stranding menjadi peristiwa petualangan dekade ini, jauh lebih menarik daripada sekadar thriller pasca-apokaliptik suram dengan IP terkenal.
Naluri inilah yang mungkin menjadi alasan adaptasi ini punya peluang nyata menjadi peristiwa penentu genre yang jarang dicapai film video game.
Untuk memahami mengapa Death Stranding menjadi fondasi yang tidak biasa bagi sebuah film, kita perlu memahami betapa tidak biasanya game ini.
Dirilis November 2019, Death Stranding menempatkan pemain di Amerika Serikat yang retak setelah peristiwa dahsyat merobek batas antara dunia hidup dan mati, melepaskan makhluk mengerikan bernama BT ke dunia yang berada di ambang kehancuran total.
Peran pemain, Sam Porter Bridges, bukanlah seorang prajurit atau orang terpilih dalam pengertian tradisional.
Ia adalah kurir, seorang pria yang seluruh tujuannya adalah berjalan sendirian melintasi medan mustahil, membawa kargo di punggungnya, menghubungkan kembali para penyintas yang terisolasi ke jaringan komunikasi yang rapuh, satu pengiriman pada satu waktu.
Premis ini terdengar hampir anti-sinematik di atas kertas, dan justru itulah yang membuatnya menarik sebagai film.
Kebanyakan cerita apokaliptik diorganisir seputar kekerasan, kelangkaan, dan perjuangan untuk merebut atau mempertahankan sumber daya.
