Game of Thrones (GOT) mungkin memiliki naga yang ikonik, tetapi House of the Dragon (HOTD) membuktikan bahwa serial tersebut gagal menjadikan naga sebagai karakter yang hidup.
Dalam GOT, Drogon, Rhaegal, dan Viserion lebih diingat sebagai "naga terbesar", "naga hijau", dan "naga yang mati" daripada makhluk dengan kepribadian unik.
>>> Avatar Legends: The Fighting Game Hadirkan Fitur Unik yang Patut Ditiru Game Lain
Padahal, ketiganya seharusnya menjadi figur paling menarik dalam perjalanan Daenerys.
House of the Dragon Beri Naga Kepribadian yang Kuat
HOTD memahami bahwa naga tidak harus menjadi sekadar perpanjangan dari penunggangnya. Caraxes, misalnya, bukan sekadar "Daemon bersayap".
Naga itu memiliki sifat gelisah, agresif, dan garang yang cocok dengan karakter Daemon.
Syrax juga memiliki ikatan pribadi yang dalam dengan Rhaenyra, melampaui hubungan komando. Setiap naga di HOTD memiliki perilaku yang memengaruhi jalan cerita.
Vhagar, dengan usia dan pengalamannya, selalu memberikan rasa bahaya tersendiri. Penonton tahu bahwa mereka tidak sekadar melihat naga lain.
Sheepstealer menjadi contoh paling jelas. Meskipun baru muncul beberapa episode di Season 3, ia sudah memiliki sejarah dan kepribadian sendiri.
Ia bukan makhluk liar yang menunggu untuk diklaim.
Ketika Rhaena akhirnya menungganginya, Sheepstealer tidak berubah menjadi senjata patuh.
>>> 22 Tahun Berlalu, Anime Ikonik Shonen Jump Ini Masuki Fase Akhir
Di episode pertama, ia tidak bisa dikendalikan dan membunuh orang yang tidak seharusnya selama Battle of the Gullet.
Di Episode 4, Sheepstealer dan Caraxes sudah menunjukkan bahwa mereka tidak saling menyukai. Ini adalah kedalaman yang membuat naga menjadi karakter yang menarik.
Keputusan untuk memasangkan Rhaena dengan Sheepstealer (yang dalam buku Fire & Blood ditunggangi Nettles) juga masuk akal. Situasi putri Daemon digunakan untuk mengeksplorasi apa artinya mengklaim naga liar.
Naga tidak kehilangan identitasnya saat mendapatkan penunggang. Mereka tidak menjadi alat plot, dan konflik pun tercipta.
Hal ini tidak terjadi di GOT.
Game of Thrones Menyia-nyiakan Potensi Naganya
GOT sebenarnya memiliki peluang emas dengan tiga naga yang lahir dan dibesarkan bersama. Drogon bisa menjadi yang paling agresif, Rhaegal kompetitif, dan Viserion yang paling lembut atau penasaran.
Namun, serial itu tidak pernah benar-benar mengeksplorasi perbedaan tersebut. Drogon memang berbeda dari dua lainnya, tetapi itu hanya direncanakan tanpa pengembangan lebih lanjut.
Akibatnya, penonton GOT tidak pernah benar-benar peduli pada naga sebagai karakter. Sebaliknya, HOTD berhasil membuat penggemar berdiskusi tentang perilaku, temperamen, dan hubungan antar naga.
Dengan memberikan naga kepribadian yang unik, HOTD membuat penonton lebih terlibat dan tertarik pada serial ini. Ini adalah pelajaran berharga yang GOT lewatkan.
