⌂ Beranda News Tiga Game Cult Classic 1992 yang Kalah Memikat Dibandingkan Era 80-an

Tiga Game Cult Classic 1992 yang Kalah Memikat Dibandingkan Era 80-an

Tiga Game Cult Classic 1992 yang Kalah Memikat Dibandingkan Era 80-an
Ilustrasi: Tiga Game Cult Classic 1992 yang Kalah Memikat Dibandingkan Era 80-an
A A Ukuran Teks16px

Tahun 1992 merupakan periode emas bagi industri video game, menghadirkan judul-judul besar seperti Sonic the Hedgehog 2, Street Fighter 2, dan The Legend of Zelda: A Link to the Past.

Di luar game-game populer tersebut, terdapat pula sejumlah judul yang mungkin kurang dikenal namun dianggap sebagai cult classic oleh para penggemarnya.

>>> Kenneth Branagh Bintangi Serial Drama 'Laird' di Paramount+

Meskipun tidak mencapai kesuksesan komersial sebesar game-game papan atas, game-game ini berhasil membangun basis penggemar yang loyal.

Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa dari cult classic tersebut ternyata tidak lagi semenarik yang diingat.

Alone in the Dark: Fondasi Horor yang Sulit Dinikmati

Alone in the Dark adalah salah satu game survival horror paling berpengaruh sepanjang masa. Game ini memperkenalkan konsep pertarungan yang lebih mengutamakan teka-teki dan penghindaran ketimbang baku tembak.

Namun, pengalaman bermain game pertamanya saat ini terasa kurang menyenangkan.

Masalah utama terletak pada sudut kamera yang canggung dan perspektif orang ketiga yang seringkali menyebabkan kematian tak terduga karena musuh menyerang dari arah yang tidak terlihat.

Ketiadaan peta di dalam game juga memperburuk navigasi, membuat pemain kesulitan melacak tata letak rumah.

Ditambah lagi dengan bos terakhir yang mengecewakan dan beberapa teka-teki yang kurang menantang, Alone in the Dark jelas merupakan peninggalan masanya.

>>> 5 Serial TV yang Diadaptasi dari Buku dan Sering Terlupakan

Kid Chameleon: Platformer Frustasi Tanpa Sistem Simpan

Kid Chameleon, sebuah game yang dikembangkan oleh Mark Cerny, menawarkan premis unik tentang seorang anak muda yang harus menyelamatkan teman-temannya dari AI jahat dalam sebuah game VR.

Meskipun memiliki mekanik shapeshifting menggunakan berbagai topeng yang menarik, game ini dikenal sebagai salah satu platformer paling membuat frustrasi di era 90-an.

Dengan lebih dari 100 level yang harus diselesaikan tanpa adanya sistem penyimpanan kemajuan, pemain dipaksa untuk menyelesaikan game dalam satu sesi panjang atau mengandalkan konsol yang terus menyala.

Night Trap: Sensasi Teknologi yang Dibayangi Gameplay Medioker

Night Trap mungkin menjadi pilihan kontroversial, bukan hanya karena ceritanya yang menampilkan vampir menyerang wanita muda, tetapi juga karena kualitas permainannya yang dianggap biasa saja.

Game FMV (Full Motion Video) ini mengharuskan pemain beralih antar kamera pengawas untuk melindungi tamu rumah dengan mengaktifkan jebakan saat musuh mendekat.

Meskipun gameplay-nya dinilai medioker, Night Trap menjadi sorotan berkat keterlibatannya dalam sidang kongres.

Teknologi FMV-nya memang mengesankan pada masanya, namun fitur tersebut dinilai berlebihan jika dipasangkan dengan gameplay yang membosankan.

>>> Lekuk Lightsaber Luke Skywalker Pecahkan Rekor Properti Star Wars Termahal

Popularitasnya melonjak berkat kontroversi tersebut, menjadikannya sukses secara penjualan. Saat ini, Night Trap lebih dianggap sebagai barang koleksi yang unik.

A
Tim Redaksi
Penulis: Albert Affandie
📰 Update Terbaru