⌂ Beranda News Skinamarink: Film Horor Liminal yang Kontroversial Mendahului Backrooms

Skinamarink: Film Horor Liminal yang Kontroversial Mendahului Backrooms

Skinamarink: Film Horor Liminal yang Kontroversial Mendahului Backrooms
Ilustrasi: Skinamarink: Film Horor Liminal yang Kontroversial Mendahului Backrooms
A A Ukuran Teks16px

Sebelum kesuksesan besar "Backrooms" karya Kane Parsons mempopulerkan genre horor liminal ke khalayak luas, sebuah film independen Kanada telah lebih dulu menyentuh tema serupa pada tahun 2022.

Film berjudul "Skinamarink" ini, yang disutradarai oleh Kyle Edward Ball, mengeksplorasi ketakutan dari ruang-ruang transisional dan kosong, namun berakhir sebagai kultus klasik alih-alih fenomena mainstream.

>>> Perbedaan Kematian Karakter di House of the Dragon Season 3 Finale dari Buku

Horor dari Ruang Kosong yang Tak Dilihat

"Skinamarink" berlatar di sebuah rumah di mana dua anak terbangun tanpa orang tua mereka dan menghadapi entitas jahat yang bermain-main dalam kegelapan.

Film ini menggunakan perspektif yang aneh, mengubah ruang aman yang familiar seperti kamar anak-anak menjadi mimpi buruk liminal yang mencekam.

Namun, banyak penonton merasa horor dari ruang kosong ini tidak menarik dan tidak menakutkan sama sekali, menciptakan jurang pemisah dalam reaksi audiens.

Berbeda dengan "Backrooms" yang mengandalkan pencahayaan neon dan koridor yang membingungkan, "Skinamarink" membangun terornya dari kegelapan visual dan naratif.

Film ini jarang menampilkan protagonisnya secara langsung, lebih memilih menunjukkan mainan anak-anak yang bergerak sendiri atau suara langkah kaki di karpet.

Pendekatan "kurang adalah lebih" ini, bagi sebagian orang, sangat efektif dalam memicu trauma dan ketakutan masa kecil penonton.

>>> 30 PP Couple Meme Ngakak untuk Tunjukkan Kekompakan Pasangan

Namun, bagi mereka yang tidak terhubung dengan visi spesifik ini, film terasa panjang dengan sedikit kejadian dan visual yang minim.

Kesalahan Fatal: Kurangnya Narasi dan Karakter

Kritik umum menyebut "Skinamarink" lebih terasa seperti instalasi seni daripada film, fokus pada atmosfer daripada narasi yang menarik.

Kurangnya karakter yang bisa dihubungkan membuat penonton yang tidak terpengaruh oleh atmosfernya kesulitan menikmati film.

Ini menjadi kesalahan besar jika dibandingkan dengan "Backrooms" yang berhasil memberikan tokoh sentral, Clark dan Mary, yang memungkinkan penonton terhubung secara emosional.

Meskipun elemen horor liminal "Backrooms" juga tidak cocok untuk semua orang, adanya karakter yang kuat memberikan jangkar emosional yang tidak dimiliki "Skinamarink".

>>> Mireille Enos Ungkap Momen Paling Mengejutkan dari Karakter Djen di Sugar Season 2

Perbedaan inilah yang membedakan "Skinamarink" dari kultus klasik menjadi potensi mainstream yang terhalang oleh kesalahan dalam pengembangan narasi dan karakternya.

A
Tim Redaksi
Penulis: Albert Affandie
📰 Update Terbaru