Kesederhanaan komik ini menambah kebrilianannya, dengan lelucon berulang, dinamika karakter yang menyenangkan, dan penggambaran perasaan serta perjuangan yang ekstrem membuatnya dapat dinikmati semua usia.
3. The Far Side
Dalam satu panel saja, kartunis Gary Larson berhasil membuat orang tertawa terbahak-bahak dengan seri minimalis dan uniknya, The Far Side.
>>> Dragon Age Diambang Kepunahan, BioWare Punya Peluang Garap Ulang RPG Klasik
Tanpa pemeran karakter tetap atau lokasi utama, namun dengan banyak sapi, The Far Side menjelajahi humor surealis di mana segala sesuatu bisa terjadi asalkan tak terduga dan lucu.
Komik ini menampilkan manusia, hewan, alien, monster, manusia gua, dan lainnya dalam situasi gila, sering kali dengan keterangan yang tajam.
Keberhasilan Larson terletak pada kemampuannya menggunakan permainan kata yang cerdas dan citra yang aneh untuk menciptakan lelucon yang tak terlupakan.
2. Peanuts
Pada tahun 1950, Charles M. Schulz mencetak sejarah dengan publikasi komik strip Peanuts pertama.
Sejak itu, Peanuts dan jajaran karakternya menjadi pionir industri komik strip dan berkembang menjadi kerajaan multimedia.
Keberhasilan Peanuts sebagian berkat humornya yang hebat, gaya seni minimalis, format revolusioner, dan karakter yang relatable yang secara akurat menggambarkan naik turunnya masa kanak-kanak.
Charlie Brown adalah anak yang canggung secara sosial namun berhati baik; anjingnya Snoopy adalah ekstrovert imajinatif dan petualang; Lucy bossy dan sassy; dan Linus bijaksana dan menyukai selimutnya.
Schulz juga praktis menciptakan format komik strip empat panel, yang memungkinkannya mengatur dan menyampaikan lelucon cerdas dengan sempurna.
Semua faktor ini bersatu menciptakan komik strip abadi yang sama lucunya dengan menyentuh hati.
1. Calvin and Hobbes
Tidak ada komik strip yang sejenak, bernuansa, relatable, dan seindah mahakarya abadi Bill Watterson, Calvin and Hobbes.
Seri ini mengikuti seorang anak laki-laki berusia enam tahun dan harimau mainan berbicara miliknya saat mereka menjalani petualangan gila dan merenungkan sifat keberadaan.
Calvin adalah anak yang liar dan imajinatif yang kecenderungannya untuk mendapat masalah sambil berfantasi telah beresonansi dengan anak-anak maupun orang dewasa.
Sebaliknya, Hobbes adalah individu yang bijaksana, meskipun kekanak-kanakan, yang sering bertindak sebagai suara akal sehat terhadap tingkah laku gila Calvin.
>>> Remake Assassin's Creed Masa Depan Harus Hindari Kesalahan Black Flag
Watterson menganggap komiknya sebagai karya seni, yang terlihat dari cara ia memadukan desain karakter yang sederhana dengan urutan imajinasi realistis dan fantastis untuk menggambarkan cara anak-anak memandang dunia.