Versi lain menyebutkan bahwa sebelumnya, Manado disebut sebagai "Pogidon,"
Informasi ini akhirnya dipublikasikan oleh Antonio Galvao, mantan gubernur Portugis di Maluku, dalam bukunya yang berjudul "Tratado."
Pada tahun 1541, seorang Eropa asal Perancis bernama Nicolaas Desliens mencantumkan nama Manado di peta dunia.
Pergantian nama Wenang menjadi Manado diyakini berasal dari Simao d'Abreu, meskipun ia dianggap telah membocorkan informasi rahasia, mengingat bangsa Portugis menjalankan politik tutup mulut terhadap distriknya.
Hari jadi Kota Manado ditetapkan pada tanggal 14 Juli 1623, berdasarkan sejumlah peristiwa bersejarah.
Tanggal 14 diambil dari peristiwa merah putih pada tanggal 14 Februari 1946, ketika putra daerah berjuang melawan penjajah Belanda untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.
Bulan Juli diambil dari unsur yuridis, dengan munculnya kebijakan Gewest Manado sebagai Staat gemeente (kotamadya) menurut Besluit Gubernur Jenderal. Tahun 1623 dipilih berdasarkan saat Manado dikenal dan digunakan dalam surat-surat resmi.
Dengan dasar peristiwa-peristiwa tersebut, tanggal 14 Juli 1623 ditetapkan sebagai hari jadi Kota Manado.