Pada 30 Juni 2010, sutradara M. Night Shyamalan merilis adaptasi live-action dari serial animasi populer 'Avatar: The Last Airbender'.
Namun, film yang dirilis 16 tahun lalu ini gagal total dan menuai kontroversi.
>>> My Neighbor Totoro Kembali Tayang di Bioskop Amerika Utara Juli Ini
Film ini dianggap sebagai salah satu adaptasi live-action terburuk sepanjang masa, baik oleh penggemar setia maupun penonton umum.
Kritik dan Kontroversi Film
The Last Airbender dikritik habis-habisan karena dialog yang buruk, pilihan casting yang dianggap tidak tepat, serta perubahan signifikan pada cerita dan karakter.
Salah satu kontroversi terbesar adalah tuduhan whitewashing, di mana karakter-karakter yang terinspirasi dari budaya Asia dan Inuit diubah rasnya.
Selain itu, pemadatan satu musim serial animasi ke dalam film berdurasi dua jam membuat alur cerita terasa terburu-buru dan tidak berkembang.
>>> 10 Anggota Justice League Terkuat, dari Swamp Thing hingga Power Girl
Perubahan pengucapan nama karakter, seperti Aang menjadi Ong, juga menambah daftar kekecewaan penonton.
Film ini bahkan meraih lima penghargaan Razzie, penghargaan parodi untuk film terburuk tahun itu.
Meskipun berhasil menutupi biaya produksinya, The Last Airbender menjadi kegagalan kritis yang menghancurkan harapan untuk sekuel.
Kisah film ini berlatar seratus tahun setelah Negara Api menyatakan perang untuk menaklukkan dunia.
>>> 4 Kontroversi Terbesar Film The Odyssey Karya Christopher Nolan
Sokka dan Katara dari Suku Air menemukan Aang, seorang Avatar berusia 12 tahun yang mampu mengendalikan keempat elemen.
