⌂ Beranda News Monster, Satu-satunya Anime Psychological Thriller yang Lebih Baik dari Death Note

Monster, Satu-satunya Anime Psychological Thriller yang Lebih Baik dari Death Note

Monster, Satu-satunya Anime Psychological Thriller yang Lebih Baik dari Death Note
A A Ukuran Teks16px

Death Note adalah salah satu anime paling ikonik yang berhasil menembus arus utama pada era 2000-an.

Karya Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata ini memiliki premis yang langsung menarik perhatian penonton.

>>> Echoes of Aincrad: Game Action RPG Gratis Perpaduan Elden Ring dan Persona

Namun, meskipun Death Note dianggap sebagai psychological thriller yang formatif, ada satu anime lain yang dinilai lebih unggul: Monster.

Monster Menggali Karakter Lebih Dalam

Salah satu kekuatan Death Note adalah protagonisnya yang bermoral konflik, Light Yagami, yang perlahan tergelincir ke sisi gelap setelah mendapatkan Death Note.

Light awalnya bernama menggunakan buku catatan itu untuk membunuh penjahat dan menciptakan tatanan dunia baru.

Namun misi itu berubah menjadi lebih gelap saat ukuran altruismenya menjadi semakin egois.

Sementara itu, antagonis utama Monster, Johan Liebert, jauh lebih terus terang tentang niatnya.

Pembunuhan mengerikan Liebert dan psikologi bengkok yang mendorongnya menjadikannya salah satu penjahat terhebat dalam anime.

Liebert sering terasa seperti supervillain, namun tetap berakar pada realitas.

Tindakan kriminalnya melampaui kejahatan Light, meskipun ia tidak memiliki Death Note atau Shinigami.

Tujuannya dimulai sebagai perang salib untuk mengakhiri umat manusia, lalu berubah menjadi agenda pribadi yang melibatkan penghapusan keberadaannya dengan menjadikan Dr. Kenzo Tenma sebagai senjata penghancurnya.

Obsesi Liebert terhadap kehancuran psikologis Tenma, dokter bedah saraf yang menyelamatkan nyawanya saat kecil, benar-benar menakutkan.

Liebert bahkan rela mengorbankan dirinya dengan merencanakan 'bunuh diri sempurna' yang memaksa Tenma untuk membunuhnya.

Hal ini memvalidasi sosiologi dan nihilisme Liebert yang menganggap dunia sebagai tempat rusak di mana kesetaraan sejati hanya bisa dicapai dalam kematian.

Death Note menghabiskan banyak waktu dengan Light dan L, detektif yang bertekad menangkapnya, namun mereka tetap terasa seperti cipher.

Penonton jauh lebih tenggelam dalam perjalanan paralel Tenma dan Liebert serta dinamika beracun di antara mereka.

Monster benar-benar melihat psikologi Tenma yang mulai rapuh dan secara aktif mempertanyakan apakah ia bisa mencapai tujuannya.

A
Tim Redaksi
Penulis: Albert Affandie
📰 Update Terbaru