Doctor X: Age of the White Mafia membuktikan bahwa popularitas dan kontroversi bisa berjalan beriringan. Di Korea, ratingnya turun; di dunia, namanya masih besar.
Data terbarunya begini: episode 8 mencatat rating 16,6 persen, turun 3,9 poin dari pekan sebelumnya. Penurunan ini tidak datang tiba-tiba, melainkan menyusul polemik seputar penggambaran insiden Gwangju Mei 1980 serta kritik atas prosedur medis dalam serial tersebut.
Mengapa Gwangju Begitu Sensitif?
Bagi publik Korea Selatan, Gwangju bukan sekadar latar sejarah. Peristiwa Mei 1980 itu meninggalkan luka kolektif, sehingga penggambarannya dalam drama populer langsung diawasi ketat. Ketika adegan yang berkaitan dengan peristiwa itu dinilai bermasalah, reaksi pun meluas hingga muncul petisi kepada Majelis Nasional.
Produksi sudah meminta maaf atas adegan tersebut. Permintaan maaf itu menjadi langkah pertama, tetapi pemulihan kepercayaan penonton biasanya membutuhkan waktu dan konsistensi.
Angka Global yang Bertolak Belakang
Sementara itu, di luar Korea, Doctor X justru masih bersinar. Pada pekan 19 sampai 25 Oktober, serial ini menempati posisi kedua daftar Tudum Netflix untuk tayangan televisi non-Inggris, dengan 18,4 juta penonton di 30 negara.
Kontras ini menimbulkan pertanyaan menarik: apakah kontroversi domestik pada akhirnya akan ikut memengaruhi penonton global, atau Doctor X akan tetap melaju di luar negeri meski goyah di kandang sendiri? Episode-episode mendatang akan menentukan jawabannya.