⌂ Beranda › Tren › Rp6 Miliar Hanya untuk Struktur: Audit Bongkar Borok Rumah Tasya Farasya
Tren

Rp6 Miliar Hanya untuk Struktur: Audit Bongkar Borok Rumah Tasya Farasya

Rp6 Miliar Hanya untuk Struktur: Audit Bongkar Borok Rumah Tasya Farasya
A A Ukuran Teks16px

Angka yang disebut kontraktor perbaikan untuk rumah Tasya Farasya terasa menyesakkan: Rp5–6 miliar, dan itu baru untuk strukturnya saja.

Perkiraan itu disampaikan Wiryawan Chandra, direktur sekaligus pemilik PT Chandra Mitra Strukturindo (CMS), saat ditanya Tasya langsung di media sosial. "Rp5-6 (miliar) itu baru strukturnya doang, karena luas tanahnya kan hampir 3.000 meter (persegi)," ujarnya. Angka tersebut masih kasar, bisa membengkak, dan belum termasuk perbaikan interior yang terdampak.

Di balik angka itu ada temuan audit yang panjang. Tim CMS yang sedang melakukan investigasi struktural — mengumpulkan data lapangan untuk dilengkapi kajian teknis, seperti dilaporkan detikcom pada Senin (26/10) — menemukan kondisi akhir kontraktor lama tidak sesuai gambar: spasi 13 cm (130 mm) padahal seharusnya 100 mm, besi sengkang 7,39 mm padahal seharusnya 10 mm, tulangan utama D16 yang terpasang hanya 15,36 mm, serta mutu beton di kisaran 250-an padahal data NDT as-built menyebut seharusnya K-300.

Kronologi yang Membawa ke Audit

Semua bermula dari unggahan Tasya pada 24 Oktober 2026. Rumah mewah hingga Rp70 miliar itu ditempati belum setahun, tetapi sudah retak-retak. Pembangunan dimulai sejak 2020 dan enam tahun tak kunjung selesai; setelah bercerai dari Ahmad Assegaf pada 2025 di tengah dugaan penyelewengan dana oleh Ahmad, Tasya mengambil alih dan menyelesaikannya dalam beberapa bulan.

Saat sejumlah bagian dibongkar, ditemukan kayu di tempat yang seharusnya ada besi. Struktur kolom ke dinding hebel tidak memiliki besi, dinding samping kolom retak dan terpisah karena tidak ada besi penghubung, dan kayu bekisting bekas yang tak dilepas tertanam di dinding hingga membusuk di dalam. Kolam renang pun turun dari garis cat yang selesai tujuh bulan sebelumnya, dan inspektur teknik sipil menduga pengerjaan tidak sesuai standar gambar arsitek.

Tasya memilih merenovasi ulang demi keselamatan penghuni, meski sadar retakan bisa tumbuh di tempat lain. Soal hukum, ia menegaskan tidak akan membawa pihak yang dulu menangani rumah itu ke pengadilan — ia bilang tidak akan menggugat di dunia, melainkan menuntut di akhirat.

Di luar urusan rumah, Tasya menyebut kerugian material total Rp37,1 miliar: dana pribadi Rp8,1 miliar, dana perusahaan (MOP) Rp13,2 miliar, CV Rp11,5 miliar, dan fasilitas kredit Rp4,2 miliar, yang disebutnya belum diganti sama sekali dan justru dirinya yang membayar ke bank, sebagaimana dilaporkan detikHot pada Selasa (27/10).

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru